Highlight

Petaka Filler Payudara Seharga 13,5 Juta Salon Zaskia Studio & Beauty

Zaskia Studio & Beauty Bar melakukan perawatan gigi hingga ke filler payudara Salon yang makin serba bisa itu perlu dipertanyakan. Janga...

Tuesday, January 28, 2020

TRAINER

Trainer a.k.a Behel Ajaib alias Perapih gigi ajaib yang diendorse artis


Sering disebut perapih gigi ajaib atau behel ajaib. Ajaib karena tanpa jumpa dokter, beli sendiri, pasang sendiri dan Voila! Gigi rapi. Itu kata iklan.

Sebenarnya alat apa ini? Amankah? 

Ini yang terjadi: jika kamu mengetikkan kata itu di mesin pencarian, maka yang keluar bukan informasi resmi dari profesional medis, melainkan akun-akun jualan. Ditambah lagi efek viral oleh endorsement artis. Lalu kepada siapa lagi masyarakat akan memperoleh informasi?

Ya tinggal dari si public figure pujaan hati.

Ya! Alat ini banyak di-endorse artis. Percayalah, mereka hanya makan uangnya. Alatnya ga pernah dipakai. Gigi mereka rapi bukan karena alat itu. Dari sebelum endorse juga udah rapi.

Public figure adalah guru buat masyarakat. Guru itu digugu lan ditiru (dipercaya dan dicontoh). Di sisi lain, uang bisa mengendalikan public figure ini ke arah yang diinginkan si pemilik pemodal.

Artinya apa?

Di tengah serangan informasi dari segala arah, mental masyarakat secara tidak langsung disetir oleh pemilik modal dan kemudian diamplifikasi oleh media.

Agama dan moral seketika tidak berkutik.

Jika yang abal sudah di-publicfigure-kan, tinggal tunggu waktu di mana dianya akan menjadi satu pemakluman dan pembenaran umum. Kesehatan masyarakat di ujung tanduk.

Jangan memasukkan apapun ke mulut jika informasi bahan dan keamanannya tidak tertulis dengan jelas. Gimana jika hasil daur ulang karet kondom bekas? Ga pernah ada yang tahu.

Cek juga isi dompet kamu. Karena alat ini benar-benar ajaib melenyapkan duitmu seketika. Sebaiknya gunakan saja untuk berdonasi. Gigimu ga butuh ganjelan geje. Banyak saudara kita yang masih butuh ganjelan dana untuk menyambung hidup mereka.

Setiap orang punya masalah gigi yang berbeda. Ukuran rahangnya pun berbeda. Mustahil alat dengan satu ukuran ini bisa mengatasi seluruh kasus yang ada. Alat ini ga mungkin bisa ngertiin kamu satu persatu.

Biarlah artis mengendorse, logika berpikir tetaplah berlalu. Mereka hanya dikasih, ga beli, dan tiada pula dipakai. Dibayar, pula.

Artis mengendorse tanpa paham efek sampingnya secara kesehatan dan betapa masifnya ketersesatan yang ditebarkan di tengah-tengah masyarakat. Kita berada di tengah rimbanya para public figure yang alih-alih memberikan pengaruh baik, malah menyebarkan virus penyakit. Yang seperti itu, tak pantas disebut influencer. Influenza, lebih pas.

Sejumlah artis/selebgram yang pernah mengendorse behel ajaib di akun instagramnya


Maklumi saja, untuk menjadi artis, tidak pernah ada syarat 'harus berwawasan'.

Lha kamu, keluar duit, ga guna, berisiko. Kalau kenapa-kenapa, duitmu ga sebanyak artis-artis itu.

Ketika salon gigi berusaha menawarkan perawatan murah, kami dokter gigi menawarkan solusi agar kamu ga keluar uang sama sekali. Yaitu dengan: pandai-pandai bersyukur.

Aturan pakai ga konsisten. Mana yang akan kamu ikuti?

Aturan pakai tidak konsisten


Bahkan kadang materi iklannya dibuat seadanya-sekenanya.

Tak ada yang namanya pakar struktur gigi. Apalagi risetnya. Curigalah jika dikatakan 100% aman. Bahkan alat medis yang dipasang oleh dokter sekalipun selalu memiliki risiko medis. Apalagi barang antah-berantah ini.
Sering kali mereka mengiklankan dengan memberikan penjelasan yang tidak mereka pahami sedikitpun apa yang mereka katakan. Dikatakannya telah teruji secara dermatologis oleh pakar gigi. Sejak kapan gigi jadi fokusnya dokter ahli kulit?



Mereka berusaha menjauhkanmu dari dokter. Its okay, semoga kamu semua bisa jadi dokter untuk dirimu sendiri. Eh tapi, dokter juga butuh dokter lain lho.

Tagline yang digaungkan adalah: tanpa jumpa dokter, jelas sekali mereka berusaha menjauhkanmu dari jangkauan informasi resmi dari profesional medis. Hati-hati dengan bahan polyurethane. Untuk beberapa orang, bahan ini bisa memicu alergi.


Maka sudah cukup jelas pesan dari penjual perapih gigi ajaib ini adalah: jika sakit konsultasi dan berobatlah pada artis.


FAKTA TRAINER

1. Merupakan alat myofunctional, artinya bekerja dg memanfaatkan kekuatan otot-otot lidah dan pipi. Maka kesalahan pemakaian tidak hanya berefek pada gigi, tapi juga pada otot dan jaringan mulut yang lain.

2. TIDAK BISA digunakan pada semua kasus, hanya pada kasus-kasus terbatas yang ditentukan melalui serangkaian pemeriksaan oleh orthodontist.

3. Trainer ada 2 jenis, yaitu untuk gigi anak-anak (peralihan gigi susu ke gigi permanen), dan untuk gigi dewasa.

4. Trainer untuk gigi anak-anak (disebut juga pre-orthodontic) terdiri dari 2 fase dengan 2 alat retainer yang berbeda. Fungsinya sebagai panduan gigi permanen yang hendak tumbuh agar terletak dlm lengkung rahang yang benar serta menghilangkan kebiasaan buruk misalnya bernafas melalui mulut atau cara menelan yang salah.

5. Trainer untuk gigi dewasa terdiri dari 3 fase dengan 3 alat trainer yang berbeda. Penggunaannya harus disertai latihan otot2 lidah dan pipi di bawah pengawasan dokter gigi.

6. Karena bisa lepas pasang sendiri, agar sesuai ekspektasi dan menghindari efek samping, aturannya sangat ketat. Dan mutlak harus sesuai aturan dokter.

Intinya adalah tetap bersyukur untuk segala sesuatu yang telah dianugerahkan. Bersyukur dalam ranah kesehatan gigi ada 2 cara:

1. Menjaga yang sudah sehat
2. Memperbaiki yang rusak agar kembali ke kondisi dan fungsi alaminya

Hanya akal sehat yang bisa melindungi kita dari iklan-iklan menyesatkan seperti ini. Bukankah hanya dengan bersyukur, maka kamu tak perlu kehilangan serupiahpun?


Saturday, January 25, 2020

Ga cuma mie instan yang dipadukan dengan alteco untuk menambal perabot. Jika dipadu dengan kapas, jadilah tambalan gigi (Tugi, 2019)

Lem setan atau lem cyanoacrylate

Lem cyanoacrylate atu disebut juga lem setan, lem alteco atau lem korea.


Siapa yang tidak tahu lem setan ini? Jika terkena jari, susah minta ampun untuk ngilanginnya. Berbau tajam, dan kadang mengeluarkan semacam uap ketika bertemu dengan bahan tertentu.

Jika tidak digunakan dengan semestinya, maka akan berisiko terjadinya hal-hal berikut:
  1. Uapnya bisa negiritasi membran mukosa mata dan saluran pernapasan termasuk hidung, tenggorokan dan paru-paru.
  2. Sekitar 5% dari populasi manusia, sensitif terhadap uap cyanocrylate dan menimbulkan gejala seperti flu.
  3. Cyanoacrylate bisa menimbulkan reaksi alergi pada kulit dan mampu memicu asma.
Berikut adalah contoh dokumentasi kasus penggunaan lem setan sebagai bahan penambalan gigi. Dokumentasi kasus oleh drg suci @dental9.clinic

Alteco + kapas digunakan untuk menambal gigi wanita berusia 45 tahun (1). Sedangkan gigi lain yang telah mati ditutup dengan gigi palsu akrilik. Karya tetukang ini bertahan selama 4-5 bulan. Keluhan pasien adalah bau mulut dan rasa tidak nyaman pada bagian gusi yang tertutup plat akrilik. 

Setelah dilakukan pembongkaran tambalan

Dua gigi depan bisa langsung dilakukan penambalan, sedangkan gigi seri kecil masih perlu perawatan saluran akar dengan beberapa kali kunjungan sebelum diutuhkan kembali.


Demikianlah masyarakat yang sok ide ini. Dan si korban ini juga pasrah-pasrah saja ditukangin. Tinggal tunggu waktu saja si tukang pakai lem akuarium. Biar semriwing dan anti muncrat kalau ngomong.

Penyalahgunaan lem ini tidak hanya dilakukan oleh oknum-oknum tukang gigi sebagai jalan praktis untuk merawat gigi. Tapi tahukah kamu bahwa banyak sekali kontek-konten Do It Yourself (DIY) atau tutorial ala-ala yang secara mirisnya, dibuat dan diposting oleh anak-anak di bawah umur.



Mengawasi anak-anak dalam bersosial media adalah tugas kita bersama. Awasi apa yang mereka baca, yang mereka lihat bahkan KONTEN APA YANG MEREKA POSTING.

Meskipun kita bisa saja mengabaikan efeknya ke pengguna sosial media yang lain, minimal, selamatkan mereka dari bahaya yang bisa merugikan diri mereka sendiri.

Mari kita berdoa: lindungilah kesehatan gigi dan mulut mereka dari godaan lem setan yang terkutuk.




Korban tukang gigi tidak selamanya berstatus ekonomi rendah. Kasus dibawah ini terjadi pada wanita mapan tapi sudah bisa dipastikan, wawasannya masih jelata.


Perempuan, 34 tahun, mengeluhkan bentuk giginya yang jelek, gusi mudah berdarah, terasa tidak nyaman dan bau mulut. Gigi ersebut adalah hasil perawatan tukang gigi sejak 1 tahun yang lalu.



Proses pembongkaran tambalan gigi yang berderet tersambung menjadi satu. Pasien percaya saja karena tetukangnya bilang pernah bekerja di klinik dokter gigi bertahun-tahun.

Setelah dibongkar, beberapa gigi rusak dan dua gigi lainnya hanya tinggal sisa akar yang ditutup begitu saja tanpa perawatan saluran akar. Peradangan tepi-tepi gusi terlihat jelas akibat tambalan yang menyambung dan menekan gusi.

Dilakukan perawatan saluran akar untuk sisa akar gigi sebelum ditambal permanen.
Hasil akhir perawatan
Untuk gigi yang hanya tinggal sisa akar, pencabutan bukan satu-satunya opsi. Perbaikan gigi bisa dilakukan setelah perawatan saluran akar (PSA) selesai. Tanpa PSA, sisa akar akan menjadi sumber infeksi.

Hal ini terjadi ketika masyarakat awam masih memiliki paradigma sakit terhadap dokter. Yaitu anggapan bahwa tugas dokter di masyarakat hanya sebagai penyembuh penyakit saja. kalau ga sakit banget, berdarah banget atau bau banget, ga akan ke dokter. Atau sekadar sebagai figur ancaman ke anak-anakmu yang nakal dengan alasan nanti akan disuntik pak dokter.

Maka dengan mudahnya para oportunis bisnis gigi ini menggeser beberapa perawatan medis menjadi perawatan nonmedis. Lebih kejamnya lagi jika diakuisisi sebagai perawatan estetika tukang salon dengan produk andalannya behel fashion dan veneer lepehan hepiden.

Bahkan banyak masyarakat yang belum tahu bahwa dokter gigi dibekali ilmu untuk membuat gigi palsu.

Pernah dengar pertanyaan: emang bisa dokter gigi bikin gigi palsu? Mindok dan sejawat lain sudah kelewat sering ketemu pertanyaan ini.

Taunya, kalau bikin gigi palsu ya ke tukang gigi.

Taunya, ke dokter gigi itu hanya untuk tambal dan cabut. Sekalinya perlu ditambal eh minta dicabut. Pas mau dicabut, mundur karena dikasih tau tetangga, 3 kata toksik: NANTI BUTA LHO.

Kebanyakan penyakit yang diderita individu maupun penyakit yang ada di komunitas masyarakat pada umumnya bersumber dari ketidaktahuan dan kesalahpahaman atas berbagai informasi kesehatan yang diterima.

Paradigma sakit harus bergeser ke paradigma sehat, yang secara makro meliputi pengembangan perilaku dan lingkungan sehat dan secara mikro berpusat pada pencegahan dan promotif tanpa mengabaikan penyembuhan dan rehabilitatif.

Jika ini dipahami, iming-iming informasi pelintiran tukang gigi atau tukang salon gigi tidak akan berpengaruh pada akal sehatmu.

Dokumentasi kasus oleh drg @segaradipura

Friday, January 24, 2020


Memasang behel perlu kewenangan dan keahlian, melepasnya pun demikian.

Behel sebagai alat kesehatan, sama seperti kateter, infus, pen dan gipsum untuk patah tulang atau paling sederhananya perban pada luka.

Pelepasannya perlu perencanaan dan pertimbangan medis. Jika tidak, gigi yang dalam kondisi masih terjadi pergerakan akan kacau karena kehilangan panduan dan penahan.

Meskipun yang kau pakai itu kau akui sebagai behel FESYEN, sejatinya sekali behel itu terpasang, baik yang abal maupun yang asli, pasti akan membuat gigi bergerak.

Gampangannya, braket membawa gigi jalan-jalan. Ketika kamu lepas braketnya di tengah jalan, si gigi bakal tersesat. Bisa-bisa goyah ga tau mau kemana.

Perawatan mandiri dalam hal mengakhiri pengobatan atau pelepasan alat kesehatan itu berbahaya. Terang saja kamu tidak memahami bahayanya karena dari awal kamu anggap behel tersebut adalah pelengkap fesyen. Padahal fitrahnya tetap sebagai alat kesehatan. Hanya saja operatornya tidak dibekali bagaimana cara 'menjinakkan' alat tersebut.



Ketika alat kesehatan tidak dipakai semestinya, tak ada manfaat medis yang didapat. Yang tersisa tinggal efek sampingnya saja.

Behel itu seperti sebilah pisau, tinggal siapa yang akan memegang. Masterchef atau pembunuh.

Perawatan mandiri tanpa anjuran dokter/dokter gigi juga akan menunda kesempatanmu bertemu dengan profesional medis. Terlebih lagi dalam kondisi gawat darurat. Perilaku ini membuat kondisimu makin parah dari hari ke hari karena disebabkan oleh tertundanya pengobatan atau efek dari kesalahan perlakuan yang diambil.

Behel adalah sebuah komitmen jangka panjang untuk tetap bertahan dan menyelesaikan perawatannya.

Behel adalah status medis untuk panjat kesehatan. Bukan status modus untuk panjat sosial.



Tiga ratus ribu rupiah dengan motivasi awalnya agar bisa diet sambil bergaya. Sekarang, benar-benar harus diet karena bisa jadi biaya perbaikan ke dokter gigi spesialis akan mengurangi anggaran makan sehari-hari.

Di sini kamu bisa melihat bahwa tarikan dan tekanan alat ortho itu sangat besar, tapi masih kalah besar dibanding tarikan dan tekanan sosial yang menganggap bahwa behel adalah asesoris pelengkap pansos.


Padahal sejatinya alat ortho adalah alat medis untuk memperbaiki gangguan dalam sistem pengunyahan. Maka jika gigimu tak ada masalah, kemudian dengan sengaja memakai behel, bukan pansos namanya. Sebut saja ansos atau anjlok sosial karena dengan sengaja menunjukkan ketidaknormalan.

Dan benar saja, di tangan para penjual behel, kecacatan itu dibuat lebih nyata di mulut-mulut pelanggannya.
Senyum manis ini hanya kenangan dalam foto masa lalu.

Ini adalah kondisi gigi ketika datang ke dokter gigi. Wanita, 20 tahun, dengan kerelaan hati menyerahkan 300 ribu untuk seseorang yang dengan teganya menukar dengan behel setan yang menyebabkan kerusakan di senyum cantiknya. (1) Kondisi gigi sebelum dipasang behel. (2) Gigi geraham kecil yang keluar lengkung dan tertarik ke depan. (3) Powerchain tanpa kawat (wireless). (4) Penempatan braket yang ngasal hingga giginya nyungsep ke atas.


Behel setan yang dipasang oleh tukang gigi atau tukang behel seperti ini menjadi alat perusak. Jika dibiarkan, kerusakannya semakin parah dan perbaikannya semakin kompleks. Waktu pemulihan makin lama dan tingkat keberhasilannya makin kecil. Tentu saja berbanding lurus dengan total biayanya. Tak ada opsi lain selain segera dibongkar saat itu juga.

Powerchain atau karet sambung seperti ini bukanlah pilihan, bukan pula asesoris yang bisa dipilih sesuka hati. Tidak bisa dipasang atas dasar permintaan pasien. Daripadanya tersemat satu standar prosedur yang sangat ketat tentang kapan waktu yang tepat pemasangan karet jenis ini.

Kondisi setelah dilepas. Giginya sudah tertarik ke segala arah tak terkontrol.

Dalam kasus di atas, dua hati telah dilukai oleh orang yang saat ini mungkin masih memasang behel ke mulut-mulut pelanggan lain tanpa merasakan empati apapun. Satu si pemilik senyum, satu lagi si ibu yang mengantarnya. Sang ibu berkonsultasi dengan dokter gigi yang merawat anaknya dengan air mata bercucuran mengkhawatirkan masa depan penampilan putrinya dan biaya perbaikannya.

Terbayang juga anak keduanya yang memakai behel setan yang sama.

...dan belum tertangani.

Wednesday, January 22, 2020


Makna kecantikan (ketampanan untuk laki-laki) yang hadir saat ini merupakan konstruksi sosial, yang tidak lagi cantik sebagaimana cantik, tapi cantik sebagai kebutuhan. Kebutuhan akan pengakuan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri.

Beberapa pihak mengatakan bahwa kecantikan itu relatif bagi tiap orang. Tapi nyatanya secara sadar atau tidak, ada banyak kekuatan seperti media, produsen bahan kecantikan dan preferensi public figure yang mengendalikan konsep cantik ini.

Produk yang diiklankan dengan tajuk WHITENING membuktikan bahwa segala yang putih itu indah.

Inilah hegemoni. Adanya pertarungan dominasi penerimaan persepsi di masyarakat demi mencapai kepentingan bisnis misalnya, melalui penciptaan kesadaran palsu.

Persepsi cantik lahiriah inilah yang harus segera dihancurkan sebelum diskriminasi hingga sikap rasis mulai berkembang.

Istilah beauty is pain juga seharusnya tidak perlu disepakati. Kuwatir nanti para pegiat kecantikan itu memilih anoreksia-bulimia untuk bisa langsing, never ending surgery untuk merubah bentuk tubuh dan... rela sulit makan demi gigi putih berveneer. Seperti pada kasus-kasus berikut:









Apalagi didukung oleh penyedia jasa salon yang tak berkompeten yang mampu mengubah LIFESTYLE menjadi LIFESTEAL.

Tukang salon itu tidak dibekali satu ilmu tentang OKLUSI. Yaitu hubungan gigi-gigi rahang bawah dan rahang atas yang terjadi selama pergerakan rahang bawah hingga menutup dan berkontak secara maksimal.

Veneer yang tidak sesuai dengan bentuk dan ukuran, misalnya terlalu tebal atau terlalu panjang, akan mengganggu hubugan oklusal ini. Akibatnya, tidak nyaman untuk mengunyah makanan, terlalu mengganjal, adanya gigi yang tidak berkontak atau bahkan sakit.

Beruntunglah yang segera sadar bahwa melanjutkan hidup lebih penting ketimbang melanjutkan gaya hidup. Gimana bisa bergaya jika tidak hidup?

Hanya zombie yang bisa bergaya meski tidak hidup.

Credit case:
@drgdennisdominika
@jordifernando
@ozdentalcare
@honestofaeda
@econgbz
@doktergigisurabayatimur

Comic by:
@koasgigi
@shasasoso




Penanganan penyakitnya dulu atau lifestyle-nya dulu yang diprioritaskan?

Perawatan orto hampir tidak pernah masuk dalam kategori perawatan gawat darurat. Tidak pernah buru-buru, bisa ditunda atau bahkan tidak perlu.

Kecuali jika kamu tiba-tiba berhenti denyut jantung dan berhenti pula aliran darah ke otak ketika melihat tetanggamu pake behel dan kamunya enggak.

Jangan mengubah LIFESTYLE jadi LIFESTEAL yaitu ketika kamu mengabaikan penyakit yang harus diprioritaskan dahulu.

Maka sangat wajar jika dokter gigimu perlu merawat banyak hal di mulutmu sebelum behel itu terpasang. Prioritas masalah seperti adanya karang gigi, penambalan atau pencabutan gigi yang sudah rusak perlu dibereskan dulu. Hingga tiba saat alat ortho terpasang, gigimu sepenuhnya sudah dalam kondisi sehat dan terkontrol.

Wanita, 20 tahun. Dokumentasi kasus oleh drg Rika Novalita (@doktergigirika.samarinda), Samarinda.
Kondisi saat pasien datang ke dokter gigi

Tambalan dan behel oleh tukang gigi kira-kira setahun yang lalu. Status kebersihan mulut terjun bebas. Gusinya dari jauh aja langsung kelihatan (ga tega mau bilang gendut). Gigi keropos dan karang gigi sudah mulai tumbuh. Hendak menjadi karang taruna, barangkali.

Setelah kawat dan karetnya dilepas, tampak gigi keropos dan gusi mengalami peradangan.


Bukti bahwa gigi tak terkontrol baik oleh dirinya sendiri ataupun si pemasang.

Setelah braket dilepas, gigi keropos dibersihkan.

Proses pembongkaran hingga perbaikan giginya dari awal sampai akhir bisa dilihat di video berikut:


Soal menentukan prioritas sih, itu hak mu. Yang ada di mulut kamu itu privasimu. Tapi sekadar tahu saja. Meski behel abalmu itu settingannya private, bau mulutmu itu setingannya auto public.

Tuesday, January 21, 2020

Estetika di bidang kedokteran gigi tidak semurah es teh kita. Adalah estetika yang tidak tunduk pada tren semata. Daripadanya ada syarat penting pembangun estetika yaitu adanya integritas harmonis dari berbagai fungsi fisiologis oral sehingga menghasilkan susunan gigi ideal baik dari segi warna, bentuk, struktur dan fungsi naturalnya untuk mencapai kesehatan dan ketahanan yang optimal.

Apakah gigi ini estetik? Tidak secara medis. Poin-poin di atas dilanggar. Pun, dengan warna superwhite-nya, membuat harmonisasi penampilan jadi tidak natural.


Jika kamu masih meyakini bahwa hidup adalah anugerah Nya, semua akan sederhana:

Perbaiki yang rusak, syukuri yang sudah baik.

Estetika adalah kembalinya keseimbangan pada kondisi alamiah sesuai dengan fungsi normalnya.

Veneer, sejatinya adalah usaha memperbaiki kerusakan baik dari aspek bentuk, posisi dan warna. Bukan sebaliknya: merusak yang sudah baik.

Warna.

Naturalnya gigi tidak putih. Memang kekuningan, itu cukup manusiawi. Asal bukan karena kotoran, pengaruh obat-obatan atau kelainan pembentukan struktur gigi.

Jika pikiranmu selalu tidak puas dengan warna gigimu yang sudah natural, ingin selalu lebih putih dan putih lagi hingga keluar dari ciri-ciri manusia sejati, yang kelainan jelas bukan giginya, kan?

Konstruksi sosial masyarakat +62 memang mendewakan serba putih untuk tubuhnya. Giliran keputihan ribut, kok gatel. Usaha mengejar putih itu akan berhenti jika mereka sudah mendapatkan putihnya yang terakhir yaitu putihnya kain kafan.

Arlen (@arlenfitri), guru SD, menempatkan prakaryanya di mulut orang. Apakah estetis? Terserah intepretasimu soal batasan estetik itu seperti apa.

Aku sih, nggak.

Karena harmonisasinya jadi hilang. Jika warna putih gigi lebih mendominasi daripada putihnya mata, keseimbangan estetika wajah jadi timpang. Gigi tampak lebih mrongos dan nonjok.

Dokumentasi ketika pemasangan veneer di salon Arlen


Dokumentasi after-before salon Arlen


Belum lagi masalah kesehatan gigi dan gusi di sekitarnya. Veneernya menutupi urgensi yang sebenarnya yaitu kondisi gigi depannya yang keropos.

Ditutup begitu saja. Seperti menyembunyikan kotoran di bawah karpet.

Jarang-jarang kan, seorang guru SD memberikan PR pada dokter gigi yang bukan muridnya?

Drg @shintasonny, mengerjakan PR itu selama 2,5 jam hingga seluruh veneernya terbongkar.

Setelah dilakukan pembongkaran veneer


Hanya butuh cermin untuk melihat sempurnanya disain alam.

Tampilan yang harus kamu syukuri adalah ketika di ujung gigi serimu masih terlihat adanya lapisan sedikit transparan. Gradasi transparansi ini menunjukkan gigimu dalam keadaan belum aus atau let say, kamu masih muda. Belum terkikis karena termakan usia pemakaian. Seperti pada kasus ini, pasien berusia 21 tahun.
Detail natural gigi sehat. Masih ada bagian transparan di ujung gigi.

Inilah gambaran gigi natural dengan warna yang begitu kompleksnya. Ada gradasi warna (hue), gradasi kepekatan (saturasi) dan gradasi dari gelap ke terang (value) ditambah lagi ada tingkat  transparansi dari bagian-bagian tertentu. Keahlian dokter gigi dan teknoogi material alat dan bahan tambalan gigi terus dikembangkan sedemikian rupa untuk bisa mereplikasi karya Tuhan yang tak pernah tertandingi ini dari segi fungsi, kekuatan dan estetika.

Inilah yang disebut sebagai BIOMIMETIC DENTISTRY. 

Duplikasi ke arah tampilan natural ini misalnya, dalam situasi si dokter gigi harus mengembalikan gigi yang rusak atau patah dan menduplikasi gigi asli secara natural. Karena dokter gigi mengemban amanah dan telah bersumpah di hadapan Tuhan untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya.

Sedangkan tukang veneer justru sengaja menutupi karya agung-Nya

Penampakan gigi setelah dibongkar.

Begitulah seharusnya estetika di kedokteran gigi. Tidak seperti tukang salon gigi, yang justru berusaha menutupi ayat-ayat Kauniyah-Nya.
Dokumentasi kasus oleh @doktergigi_pontianak

Sunday, January 19, 2020


Para pemakai behel tukang salon ini, meskipun tidak memiliki motivasi kesehatan sama sekali, mungkin saja merasakan sakit dan ketidaknyamanan pada gigi mereka, namun memaksakan diri untuk menahannya.

demi terlihat lebih baik dari diri mereka yang sebenarnya di depan orang lain.

Memilih gaya hidup itu seperti menempuh perjalanan. Salah pilih kendaraan atau salah pilih jalan justru membuatmu semakin jauh tersesat. Semakin terbuang pula waktumu.

Ketika tersadar, ongkosmu ga cukup lagi buat balik. Tujuan awalmu makin tak terjangkau.

Dua gigi serinya sudah mati maka jika mau dirawat, kunjungannya harus berkali-kali karena harus menjalani perawatan saluran akar.


Selama perawatan, behel disarankan agar dilepas.


Karena pertimbangan biaya dan waktu, pasien berusia 20-an tahun ini belum bersedia melanjutkan perawatan. Dia tidak mengira akan sekompleks itu perawatannya.


Pasien berusia 20-an tahun ini tak mampu menjangkau lagi opsi perawatan untuk giginya setelah dijelaskan tentang apa saja perawatan yang harus dilakukan. Entah pertimbangan waktu, biaya atau keduanya, membuat pasien menolak dilakukan tindakan.

Penjual gaya hidup ini tahu betul bahwa dengan iming-iming eksistensi kekinian, para pencari jati diri ini akan mengupayakan apa saja untuk bisa eksis di kelompoknya.

Untung filsuf Rene Descartes tidak hidup di Indonesia pas jaman Behelian-veneerian. Bisa-bisa istilah cogito ergo sum tak pernah ada, karena manusia tak mampu lagi bisa berpikir (cogito) untuk menunjukkan eksistensinya (ergo sum).

Digantilah menjadi ORTHODONSIO ERGO SUM atau aku berbehel maka aku eksis.

Dokumentasi @doktergigi_pontianak

Sering terjadi kesalahpahaman umum dalam masyarakat bahwa gigi putih terang lebih menarik daripada gigi kuning.

Persepsi ini yang menyebabkan masyarakat mengupayakanapa saja agar giginya putih.

Tapi kita sebagai dokter gigi menyadari fakta bahwa warna gigi bervariasi sebagaimana warna kulit, usia, jenis kelamin, ras dan faktor lingkungan.

Gigi putih itu sebenarnya bahasa iklan. Untuk kepentingan jualan produk. Sedangkan warna gigi sehat sejatinya hanya dikenal dalam 4 kategori:

Shade A: reddish-brownish
Shade B: reddish-yellowish
Shade C: greyish shades
Shade D: reddish-grey

Ga disebutkan warna PUTIH

Kecuali di tukang salon, warna putih mendadak muncul dengan opsi: putih pocong, putih WC dan putih lepehan hepiden.

Tuhan menciptakan variasi warna gigi sesuai keunikanmu sebagai seorang individu. Buat apa memutihkan gigi dengan warna fabricated yang sama? Kemudian seragam dengan banyak orang sesama gigi ubin toilet. Sedangkan ketemu orang dengan baju yang sama di tempat umum saja kadang malunya sampai ke ujung tulang ekor.

Wanita, 20 tahun mengeluhkan giginya berat dan susah menutup mulut. Dia merasa malu karena bibirnya dirasa lebih maju dan bentuk giginya aneh.

Awalnya datang ke tukang salon hanya untuk bleaching. Tapi kemakan rayuan veneer yang katanya putihnyabakal lebih tahan lama. harga 2,5 juta dengan diskon 500 ribu sebagai bumbu rayuannya.

Veneer giginya hanya bertahan sehari. Pembongkarannya memerlukan waktu 2 jam.


Jika sudah punya gigi putih seperti itu, terus kamu jadi bisa apa?

Ya hidupnya auto pemutihan juga, mindok. Pemutihan dari cap status miskin, status kudet dan status kampungan. Begitu kira-kira pemikiran kaum pansos veneerian.

Dokumentasi drg @sarahneisya

Konstruksi putih sebagai standar estetika bagi dunia industri, pada dasarnya hanya sekadar komodifikasi untuk meningkatkan omset penjualan, menaikkan rating media, dan meningkatkan jumlah penonton guna meraup keuntungan. konsep kecantikan ini dikonstruksi oleh media pada era yang berorientasi visual seperti saat ini, membuat masyarakat harus berhadapan dengan berbagai persoalan penyesuaian tubuh atas zaman dan selera yang sedang berubah.

Selama putih itu dianggap berbanding lurus dengan standar kecantikan, dianya akan selalu dikomoditikan.

Soal warna, biarkan saja mereka berkreasi. Mau pilih warna natural atau supranatural, bebas.

Putih itu hakmu tapi bau mulutmu bukan hak kami. Tolong ditelan sendiri.

Ngejar Holiwud smile, malah dapet Bantar Gebang smell.
Veneer sebagai benda tempelan, jika asal tempel berubahlah ia sebagai kotoran pengganggu. Masalahnya kotoran ini menempel secara permanen. Terlebih lagi, akan mengganggu organ pengunyahan secara keseluruhan yaitu gigi, gusi, tulang, otot dan syaraf-syaraf yang terlibat.


Pasien datang ingin membongkar veneer-nya yang terpasang sejak 8 bulan yang lalu.


Pasien merasa bau mulut semakin hebat hingga selalu memakai masker karena malu.


Selain bau mulut, pasien juga merasakan kesulitan mengunyah dan gusi mudah berdarah.


Jangan percayakan organ tubuhmu ditempeli bahan-bahan medis secara permanen oleh orang sekapasitas tukang salon. Jika sampai kenapa-kenapa, cacatnyapun bisa permanen dan mereka tidak mampu nolongin kamu. Ga sesederhana membantumu menghapus make up.

Dan mbok ya diingat, bahwa gigi dewasamu itu hanya dikasih 1x saja seumur hidupmu. Kok ya tega nganu-nganuin.

Dokumentasi kasus oleh drg @geminisari

Level kesehatan mental seseorang sebanding dengan seberapa besar mereka bisa menerima dirinya sendiri.

Kehidupan sosial memang mengajarkan kita untuk selalu melihat kekurangan. Mindset kita adalah scaning ketidaksempurnaan. Source of happiness kita selalu masalah fisik.

Basa basi ketemu kawan di jalan saja dimulai dari obrolan tentang fisik: kok kurusan, kok gendutan, kok iteman. Filter di smartphone bisa merubah wajah seketika untuk bisa langsung diposting hanya untuk membuat tertarik orang-orang di jagad maya yang bahkan ga dikenalnya.

Kebiasaan masyarakat yang selalu melihat kekurangan ini tentu saja menjadi komoditi. Semua bagian tubuh bisa dirubah sesuai yang diinginkan.

Ya biarin, lah. Duit-duit mereka. Asal ga berlebihan aja ga papa. Inilah statement yang lama-lama akan membentuk mindset di masyarakat dan karakter pola pikir.

Pertanyaannya: how much is too much? Kepuasan tak pernah berbatas.

Kaltim, wanita 35 tahun menginginkan veneernya dibongkar setelah 1 Minggu yang lalu dipasang oleh tukang gigi. Alasannya: Sulit mengunyah!!! Motivasi awal si pasien adalah menginginkan giginya rapi dengan harga yang murah. ternyata yang didapat adalah veneer dengan ciri khas veneer tukang salon yaitu sebagai berikut:

Meski aspek estetika itu subjektif, kita sepakat bahwa putihnya tidak lagi natural. Bentuk tidak sesuai anatomi, asal tempel dan tidak ada simetrisasi. hal ini hanya akan menjadikan veneer-nya menjadi benda asing. menjadi kotoran dan mempersulit pembersihan.

Celah antar gigi tertutup bahan veneer. Akibatnya sisa makanan pada area yang diberi tanda, sulit dibersihkan sekalipun menggunakan sikat gigi. Dental floss pun tidak bisa masuk. risiko peradangan pada gusi yang bersangkutan.

Ketebalan veneer yang mengganggu bidang kunyah menyebabkan gigitan tidak nyaman. mengganjal. jika dibiarkan, tidak hanya gigi dan jaringan pendukungnya yang rusak, otot pengunyahan di sekitar leher dan wajah akan bermasalah.

Pembongkaran total membutuhkan waktu 1 jam. Pasien merasakan kelegaan dan kapok di saat yang bersamaan.


Selama estetika itu subjektif, kecantikan tak punya standar. Semua bergantung pada siapa yang bikin tren dan siapa yang jualannya paling laku.

Maka sebelum kita bicara soal illegal practician, tukang salon gigi dan jasa-jasa kecantikan ilegal pada umumnya, mari kita tanamkan dulu healthy mindset dan mem-promote usaha CINTAI DIRI untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

Dokumentasi @doktergiginashrul

Powered by Blogger.

Follow Aja Dulu

Other Platform

Popular Posts