Highlight

Petaka Filler Payudara Seharga 13,5 Juta Salon Zaskia Studio & Beauty

Zaskia Studio & Beauty Bar melakukan perawatan gigi hingga ke filler payudara Salon yang makin serba bisa itu perlu dipertanyakan. Janga...

Saturday, January 18, 2020

Behel yang sekarang dianggap sebagai asesoris dan fashion akan selalu bertemu dengan para social climber.

Social Climber adalah jenis cabang olahraga yang terpopuler di negeri ini.

Ciri khasnya adalah: menempatkan pengakuan di atas kemampuan. Maunya di atas mampunya.

Konsumsi suatu produk tidak lagi menjadi suatu alasan kegunaan namun lebih kepada pertimbangan nilai dan imej yang melekat pada produk tersebut. Behel untuk gigi yang tidak bermasalah, veneer untuk gigi yang sehat dan mungkin kamu harus coba memakai kafan selagi masih hidup.

Behel yang memiliki fungsi utama sebagai alat kesehatan kemudian menjadi bagian dari kosmetika dan aksesoris yang merepresentasikan status-status tertentu di masyarakat. Rasa percaya diri, bangga dan puas terhadap diri mereka sendiri terbentuk setelah menggunakan behel.

Tidak peduli seberapa besar rasa sakit yang mereka tahan saat menggunakannya, semua terbayar ketika orang lain menilai mereka lebih baik dari diri mereka yang sebenarnya.


Seorang gadis, 17 tahun dengan behel salon yang terpasang sejak 3 bulan yang lalu. Tarifnya 100 ribu, tidak memakai kawat.

Behel dipasang oleh tukang salon setelah mendapat persetujuan dari orang tua si gadis.

Si gadis mengantongi gunting kuku. Pesan si tukang salon kepadanya, "Jika bosan, lepas sendiri saja behelnya pakai alat itu."


Behel, jika dikembalikan ke indikasi medisnya, tak pernah menjadi perawatan urgensi. Proses yang harus dilalui tak pernah singkat.

Pun dengan biaya, ya... fix, memang harus mahal. Maka kamu kudu komit tanpa banyak komat-kamit: kok mahal, kok ribet, kok banyak aturan.

Social climber akan mencari jalan tersingkat. Tak peduli dengan sebuah proses. Maka jangan heran, kegiatan arisan behel selalu punya peminat yang banyak. Sebanyak social climber itu sendiri. Murah dan langsung pasang. Persetan dengan analisis dan rencana perawatannya. Toh cuma fesyen, pikirnya.

Sampai suatu waktu, behelnya mengacaukan giginya seperti pagar makan tanaman. Simbol status sosial itu runtuh bersamaan dengan hancurnya gigi dan kesehatannya secara umum. Jika tak punya gigi, lantas kau tempel dimana lagi behel yang sangat prestis itu? Di amandel?

Credit case: drg @aprilandra

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Follow Aja Dulu

Other Platform

Popular Posts