Highlight

Petaka Filler Payudara Seharga 13,5 Juta Salon Zaskia Studio & Beauty

Zaskia Studio & Beauty Bar melakukan perawatan gigi hingga ke filler payudara Salon yang makin serba bisa itu perlu dipertanyakan. Janga...

Saturday, January 18, 2020

Dalam beberapa tahun terakhir perawatan estetika sedang naik daun. Sudah bisa ditebak, arahnya ke gigi makin tampak ketika para influencer dan public figure menunjukkan senyum putihnya di berbagai media sosial. Maka beberapa oknum mulai membaca situasi ini sebagai lahan basah.

Dari hasil pengumpulan data oleh tim admin akun edukasi instagram korbantukangigi, jumlah laporan korban praktisi gigi ilegal menunjukkan bahwa angkanya serasi dengan tren menjamurnya estetika pergigian ini. Behel dan veneer menempati posisi nomor satu dan dua di atas gigi palsu. Hal ini menunjukkan bahwa tukang gigi konvensional yang dikenal di masyarakat sebagai pembuat gigi palsu telah tergeser oleh tukang salon gigi yang lebih fokus pada masalah estetika.

Berikut data yang dikumpulkan sepanjang rentang waktu dari tanggal 11 Agustus 2016 hingga tanggal 17 Juli 2019.

Jenis kasus
Jumlah
Behel
514
Veneer
331
Gigi palsu
239
Tambal gigi
86
Cabut gigi
14
Bleaching
7
Jumlah
1191


Korban akibat behel oleh oknum yang tidak berkompeten menunjukkan angka yang paling  banyak karena trennya berkembang lebih dahulu. Tren veneer mulai dikenal masyarakat baru di 10  tahun terakhir sedangkan behel sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak tahun 90-an.
Veneer Tidak Hanya Sekadar Tempelan
Veneer dari sisi medis adalah salah satu prosedur medis yang dilakukan oleh dokter gigi untuk  memperbaiki ketidaknormalan posisi, bentuk dan warna dengan cara menempelkan bahan pelapis di  bagian depan gigi. Bahan ini bisa langsung ditempelkan sebagaimana seorang dokter gigi melakukan  penambalan dengan menggunakan bahan tambal (direct veneer) dan ada jenis bahan pelapis veneer  yang harus dibuat dahulu oleh tekniker gigi di lab (indirect veneer).
Tidak semua kasus bisa dilakukan veneer.
Misalnya posisi gigi yang terlalu ekstrim, kerusakan  gigi yang sudah terlalu besar atau perubahan warna gigi yang hanya disebabkan oleh pewarnaan  ekstrinsik dari rokok atau kopi, misalnya, atau hanya karena adanya karang gigi.
Prosedur pengerjaan veneer harus dilakukan oleh profesional khususnya dokter gigi karena efek  samping bahannya begitu keras jika tidak digunakan sesuai aturan pakai dan keilmuan yang cukup.  Sebut saja beberapa masalah dari bahan medis tersebut bisa meliputi alergi atau iritasi. Pengikisan email  gigi adalah tiket sekali jalan karena email yang sudah hilang tidak bisa tumbuh kembali.
Apa Kerusakan Yang Bisa Diakibatkan oleh Veneer non Medis?
Pemakaian bahan veneer yang tidak sesuai aturan justru akan membuat bahan tersebut bersifat  toksik.
Bisa menyebabkan alergi dan iritasi. Larutan etsa yang seharusnya dipakai untuk mengkasarkan  permukaan gigi agar perlekatan bahan tambalnya baik, jika diaplikasikan secara berlebih, akan membuat  lapisan email gigi terlalu banyak yang larut.

Hasil veneernya sendiri yang merupakan konstruksi benda asing yang ditempel ke gigi, jika tidak  memperhatikan aspek-aspek biologis dari rongga mulut, malah akan menyebabkan kotoran lebih mudah  menempel, membuat gigi yang bersangkutan rusak atau justru akan melukai jaringan sekitar.

Anatomi veneer yang gagal. Dokumentasi oleh drg. Astrid  Khatalia, SP. Pros

 Di balik veneer tukang salon, gigi asli semakin keropos karena  tertutup veneer dan tidak mendapatkan penanganan dengan benar.

Permasalahan yang paling ringan dimulai dari terganggunya harmonisasi estetika wajah  seseorang. Estetika di kedokteran gigi sejatinya tidak pernah tunduk pada tren semata yang diyakini  bahwa gigi semakin putih akan semakin indah. Daripadanya ada syarat penting pembangun estetika itu  sendiri sehingga terbangun integritas harmonis dari fungsi fisiologis oral yaitu warna, bentuk, struktur  dan fungsi alaminya untuk mencapai kesehatan dan ketahanan yang optimal.
Jika warna gigi terlalu putih, harmonisasi wajah menjadi tidak seimbang.
Warna gigi ini sudah  ada pepakemnya yaitu tidak melebih warna putihnya mata agar jika dilihat orang lain, fokus  perhatiannya akan merata dan tidak timpang sebelah. Jika gigi kelewat putih, misalnya, akan membuat  gigi seolah lebih penuh, lebih besar dan lebih maju.


Harmonisasi wajah jadi terganggu ketika warna gigi lebih mencolok ketimbang warna mata.





Masalah warna ini mungkin masih bisa menjadi penilaian subjektif. Bisa jadi menurut  harmonisasi tidak masuk, tapi untuk sebagian orang merasa hal tersebut tidak masalah dan bagus-bagus  saja.

Gangguan berikutnya bisa jadi terkait dengan kenyamanan dalam mengunyah makanan. Para  praktisi ilegal itu pastinya tidak memiliki dasar ilmu mengenai oklusi atau kontaknya gigi pada rahang  atas dan bawah secara normal sehingga veneer yang dipasang justru mengganggu relasi kedua rahang  ini. Jika gigi depan jadi terganjal, gigi belakang jadi sulit untuk mengunyah.



Baru 2 hari pasang veneer, pasien mengeluh giginya sulit dipakai untuk mengunyah makanan.

Kemudian mulai muncul gejala-gejala kerusakan pada gigi dan jaringan sekitar. Pada awalnya  tidak disadari karena tidak terasa sakit. Misalnya saja peradangan gusi tahap awal akibat terkumpulnya  kotoran sisa makanan yang sulit dibersihkan.


Tampak peradangan gusi setelah veneer dibongkar





Peradangan gusi tahap selanjutnya menyebabkan gusi mudah berdarah. Jika dibiarkan,  peradangan ini akan meluas hingga tulang rahang. Kasus yang dilaporkan bahkan sampai terjadi  kematian tulang atau squester.



Pasien veneer dengan peradangan gusi tahap lanjut hingga gusi sangat mudah berdarah



Squester tulang atau serpihan tulang mati akibat veneer yang terlalu menekan jaringan pendukung




Usaha pembongkaran veneer ini bukan perkara mudah bagi dokter gigi. Dalam keadaan normal  tanpa kasus penyulit dari status kesehatan pasien, bahannya saja sangat keras dan membutuhkan waktu  yang lama untuk dibongkar.



Sebelum dan sesudah pembongkaran veneer gigi tukang salon

Veneer pada akhirnya cenderung dijadikan simbol status sosial bagi masyarakat. Kiblatnya: artis.  Maka bahaya sekali jika simbol status sosial itu didapat dari tempat yang salah yang akhirnya akan  mengorbankan kesehatan dan menurunnya kualitas hidup seseorang.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Follow Aja Dulu

Other Platform

Popular Posts