Highlight

Petaka Filler Payudara Seharga 13,5 Juta Salon Zaskia Studio & Beauty

Zaskia Studio & Beauty Bar melakukan perawatan gigi hingga ke filler payudara Salon yang makin serba bisa itu perlu dipertanyakan. Janga...

Saturday, January 25, 2020




Korban tukang gigi tidak selamanya berstatus ekonomi rendah. Kasus dibawah ini terjadi pada wanita mapan tapi sudah bisa dipastikan, wawasannya masih jelata.


Perempuan, 34 tahun, mengeluhkan bentuk giginya yang jelek, gusi mudah berdarah, terasa tidak nyaman dan bau mulut. Gigi ersebut adalah hasil perawatan tukang gigi sejak 1 tahun yang lalu.



Proses pembongkaran tambalan gigi yang berderet tersambung menjadi satu. Pasien percaya saja karena tetukangnya bilang pernah bekerja di klinik dokter gigi bertahun-tahun.

Setelah dibongkar, beberapa gigi rusak dan dua gigi lainnya hanya tinggal sisa akar yang ditutup begitu saja tanpa perawatan saluran akar. Peradangan tepi-tepi gusi terlihat jelas akibat tambalan yang menyambung dan menekan gusi.

Dilakukan perawatan saluran akar untuk sisa akar gigi sebelum ditambal permanen.
Hasil akhir perawatan
Untuk gigi yang hanya tinggal sisa akar, pencabutan bukan satu-satunya opsi. Perbaikan gigi bisa dilakukan setelah perawatan saluran akar (PSA) selesai. Tanpa PSA, sisa akar akan menjadi sumber infeksi.

Hal ini terjadi ketika masyarakat awam masih memiliki paradigma sakit terhadap dokter. Yaitu anggapan bahwa tugas dokter di masyarakat hanya sebagai penyembuh penyakit saja. kalau ga sakit banget, berdarah banget atau bau banget, ga akan ke dokter. Atau sekadar sebagai figur ancaman ke anak-anakmu yang nakal dengan alasan nanti akan disuntik pak dokter.

Maka dengan mudahnya para oportunis bisnis gigi ini menggeser beberapa perawatan medis menjadi perawatan nonmedis. Lebih kejamnya lagi jika diakuisisi sebagai perawatan estetika tukang salon dengan produk andalannya behel fashion dan veneer lepehan hepiden.

Bahkan banyak masyarakat yang belum tahu bahwa dokter gigi dibekali ilmu untuk membuat gigi palsu.

Pernah dengar pertanyaan: emang bisa dokter gigi bikin gigi palsu? Mindok dan sejawat lain sudah kelewat sering ketemu pertanyaan ini.

Taunya, kalau bikin gigi palsu ya ke tukang gigi.

Taunya, ke dokter gigi itu hanya untuk tambal dan cabut. Sekalinya perlu ditambal eh minta dicabut. Pas mau dicabut, mundur karena dikasih tau tetangga, 3 kata toksik: NANTI BUTA LHO.

Kebanyakan penyakit yang diderita individu maupun penyakit yang ada di komunitas masyarakat pada umumnya bersumber dari ketidaktahuan dan kesalahpahaman atas berbagai informasi kesehatan yang diterima.

Paradigma sakit harus bergeser ke paradigma sehat, yang secara makro meliputi pengembangan perilaku dan lingkungan sehat dan secara mikro berpusat pada pencegahan dan promotif tanpa mengabaikan penyembuhan dan rehabilitatif.

Jika ini dipahami, iming-iming informasi pelintiran tukang gigi atau tukang salon gigi tidak akan berpengaruh pada akal sehatmu.

Dokumentasi kasus oleh drg @segaradipura

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Follow Aja Dulu

Other Platform

Popular Posts