Highlight

Petaka Filler Payudara Seharga 13,5 Juta Salon Zaskia Studio & Beauty

Zaskia Studio & Beauty Bar melakukan perawatan gigi hingga ke filler payudara Salon yang makin serba bisa itu perlu dipertanyakan. Janga...

Thursday, March 26, 2020


Kanker di Indonesia menjadi penyebab kematian nomer 7 setelah stroke, TBC, hipertensi, trauma, perinatal dan diabetes.

Kanker ganas yang paling banyak terjadi di rongga mulut, sekitar 90-95% total keganasan, adalah karsinoma sel skuamosa (Squamous Cell Carcinoma/SCC).

Tau alasannya kenapa kanker dan zodiak berlogo kepiting itu sama-sama disebut CANCER dalam bahasa Inggris?

Karena kanker bisa menyebar ke segala arah seperti arahnya kaki-kaki kepiting.

Jika sudah begini, mana tuh yang tempo hari berdemonstrasi menuntut hak untuk melanjutkan pekerjaannya? Tidak sudi profesinya ditiadakan, pun juga tidak mau dikriminalisasikan dengan Undang Undang.

Riuh sekali mereka itu ketika berunjuk rasa menuntut hak hidup pada pemerintah di saat si korban juga sedang memohon untuk bisa bertahan hidup pada Tuhan.

Oknum praktisi gigi ilegal inilah sebenar-benarnya kanker di tengah-tengah masyarakat. Menyebar ke segalah arah tak terkendali dan tak terawasi. Kekuatan hukum tak sanggup membatasi dan kebijakan pemerintah belum mampu mengeradikasi.

Kanker berarti berlomba berpacu dengan waktu. Keberhasilan pengobatan ditentukan seberapa awal terdeteksi dan seberapa cepat diambil tindakan. Pun setelah sembuh, masih ada risiko kambuhan.

Untuk mengupayakan kesehatan secara holistik, perawatan pasien berpedoman pada risiko individual. Bukan pada risiko statistik. Jika ada 1 saja kejadian di antara 100 orang, maka risiko yang hanya sebesar 1% itu tak boleh diabaikan. Standar pemeriksaan dan tindakan harus mampu menyesuaikan dengan segala macam kemungkinan.

Praktisi gigi ilegal yang masih bandel buka lapak, biasanya karena merasa pelanggannya aman-aman saja. Tak pernah ada yang komplain.

Ya iya, jika ada permasalahan lebih lanjut, pasti ga ke dia lagi periksanya.

Padahal di dunia medis, satu kemungkinan kecil saja bisa menjadi standar precaution untuk keseluruhan tindakan yang lain.

Analoginya sama seperti di dunia penerbangan, ga mungkin pramugari memutuskan untuk membiarkan penumpang mengaktifkan HP meskipun dia ga pernah atau jarang sekali mengalami sendiri adanya gangguan sinyal pada jalur komunikasi pilot.

Di dunia medis, kejadian risiko medis berupa pasien dengan bakat keganasan atau kanker memang bukan pengalaman yang bisa setiap hari ditemui. Tapi risiko itu nyata adanya. Begitu juga dengan risiko lain terkait kondisi kesehatan setiap individu yang mewajibkan standar pemeriksaan dan perawatan jangan sampai ada yang terabaikan.

Selama penanganan itu menyangkut keselamatan manusia, tindakan prosedural harus berdasar pada risiko individual. Bukan pada probabilitas kejadian yang PERNAH ditanganinya semata.

Wawasan ini berlaku juga untuk si pemakai jasa praktisi ilegal. Pelanggan lain baik-baik saja, di kamu belum tentu aman karena praktisi tak berilmu ini tak mampu menganalisis risiko individual yang ada di tubuhmu.

Berikut adalah kasus-kasus kanker dan dugaan yang terjadi akibat penanganan tukang gigi

1. Suspect/dugaan Squamous Cell Carcinoma pascapencabutan

Dokumentasi kasus oleh drg. Ahmad Affandi
Wanita, 49 tahun, 2 minggu sebelumnya melakukan pencabutan gigi di perawat umum di dekat rumahnya yang juga melayani pembuatan gigi palsu. Menurut pengakuannya, gigi dicabut dengan cara digerinda.


Terdapat bercak putih kasar, mengeluarkan nanah dan bau tidak sedap. Diagnosis sementara Squamous Cell Carcinoma. Pasien dirujuk ke onkolog untuk menegakkan diagnosis.

Pasien telah dirujuk untuk pemeriksaan selanjutnya. Sayangnya, tipikal pasien keganasan di negara plussixtytwo, dokter selalu menjadi opsi terakhir.

Sama seperti pasien ini, dia ga langsung pergi ke Rumah Sakit. Dicobanya pengobatan alternatif. Saat ini nyerinya sudah sampai tenggorokan dan belum ada tanda membaik.

Mulai dicobanya urus BPJS, dan siap pergi ke rumah sakit dengan segala harapan kesembuhan penyakitnya yang makin parah selama penundaan dan pengobatan yang salah.


2. Malignant Round Cell Tumor cendereung Malignant Lymphoma Non Hodgkin akibat Gigi Palsu

Laki-laki, 78 tahun, awalnya datang ke dokter gigi berniat cabut gigi yang goyang. Terdapat pembengkakan di langit-langit sisi kanan yang tadinya tempat terpasangnya gigi palsu yang dipermanenkan dan tidak bisa dilepas selama 5 tahun terakhir. Buatan tukang gigi keliling.


Sesuai Permenkes No 39 tahun 2014, tukang gigi sepatutnya tidak membuat gigi tiruan yang dipermanenkan atau tidak bisa dilepas sendiri oleh pasien. Di Permenkes ini juga disebutkan bahwa tukang gigi seharusnya tidak berpraktik dengan cara berpindah-pindah atau kelilingan.

Dari hasil pemeriksaan lab, pasien didiagnosis Malignant Round Cell Tumor cendereung Malignant Lymphoma Non Hodgkin akibat Gigi Palsu. Pemotongan rahang untuk pasien ini harus segera dilakukan untuk menghambat penyebaran kanker lebih jauh lagi dengan. Pun, peluang kambuh lagi masih sebesar 80 persen.

Pasien minta waktu untuk berdiskusi dengan keluarga. Sayang sekali, tak pernah kembali lagi. Mungkin sedang mencari pengobatan alternatif. Tipikal masyarakat negeri ini untuk menghindari tindakan operasi atau tindakan medis lainnya jika sudah terdiagnosis menderita kanker.



3. Meninggal Dengan Diagnosis Squamous Cell Carcinoma Akibat Gigi Palsu

Wanita, 57 tahun. Pemakaian gigi tiruan hampir 5 tahun dan tidak pernah dilepas. Keluhan muncul sekitar 2 bulan yang lalu. Datang ke poli gigi dengan keluhan bengkak dan selalu berdarah dari intra oral dan ekstra oral.

Dari keterangan dokter bedah, Hasil HPA: positif SCC/keganasan et causa iritasi kronis gigi palsu.


Kondisi pada saat pertama kali pasien datang.
Proses operasi pengangkatan kanker. Jaraknya 2 minggu dari kunjungan pertama.

Satu bulan setelah operasi, Ibu ini meninggal karena kankernya sudah terlanjur menyebar.

4. Squamous Cell Carcinoma di Lidah Akibat Gigi Palsu dan Komplikasi

Risiko tertinggi terjadinya SCC (Squamous Cell Carcinoma) dialami oleh para perokok dan alkoholik dan akan diperparah oleh kebersihan mulut yang buruk. Kasus pasien yang dikirim oleh sejawat drg drg. Ganendra, Sp.BM ini memakai gigi tiruan rahang atas buatan tukang dengan menutup sisa akar.

Pasien ini perokok berat.

Jadi keberadaan gigi tiruan yang ga sesuai standar ini meningkatkan risiko terjadinya kanker. Belum lagi pembersihan sehari-hari yang terabaikan. Ya jelas terabaikan, mana ada tukang yang menjelaskan bagaimana pemeliharaan gigi tiruan sehari-harinya secara detail?

Peradangan rongga mulut semakin meningkat.

Manifestasi kankernya berupa sariawan yang besar di lidah, empat bulan tidak sembuh. Penyebarannya sampai ke kelenjar getah bening, ditandai dengan pembengkakan di sekitar dagu kanan.
Pasien datang dengan kondisi memakai gigi palsu tukang gigi yang dipasang menutupi sisa akar gigi. Terdapat semacam sariawan yang sangat lebar di lidah. Dan pembengkakan dagu bawah sebelah kanan menunjukkan penyebaran infeksinya sudah sampai ke kelenjar getah bening.
5. Meninggal Dengan Squamous Cell Carcinoma di Dasar Mulut Akibat Gigi Palsu

Pasien 56 tahun, katanya sudah memakai gigi tiruan made in tukang sejak 3 tahun yang lalu. Karena permanen, belum pernah dilepas sampai sekarang. Pasien dirujuk ke spesilis Onkologi dan didapatkan diagnosis Squamous Cell Carcinoma.
Gusi bagian dalam rahang bawah sakit, sering berdarah. Pelepasan gigi tiruan sangat sulit. Setelah terbuka terlihat gusi terjadi peradangan dan terdapat bercak putih.
Satu bulan setelah pasien dirawat, akhirnya pasien ini dikabarkan telah meninggal karena penyebaran kankernya.

6. Meninggal Setelah Melawan Kanker Akibat Gigi Palsu

Banjarmasin, Ibu latifah berusia 44 tahun mengalami pembengkakan pada pipi hingga wajahnya sebelah kanan. Pertama kali kasus Ibu Latifah diangkat oleh para aktivis di BEM STIE Pancasetia Banjarmasin yang bermaksud untuk menggalang dana untuk pengobatan beliau.

Menurut penjelasan salah seorang mahasiswa:

Awalnya semakin hari semakin merasakan sakit pd daerah gusi hingga terbentuk lubang berisi air yg kemudian pecah. Beliau sdah pernah berobat ke RS daerah Ulin tapi tidak memiliki biaya untuk meneruskan pengobtan. Jumlah biaya yg harus dikeluarkan 75 -100 juta rupiah. Kondisi ini sudah berlangsung 6 bulan lamanya. Penyakit beliau begitu cepat perkembangannya, pada bulan ke 5 kami sempat melakukan survei luka yang berongga itu. Ukurannya cukup besar dan semakin hari semakin parah. Hingga memasuki bulan ke 6 kami datang kembali utk mengurus BPJS, ternyata luka itu semkin parah dan meluas. Ibu Latifah hanya tinggal bersama suami, beliau tidak mempunyai anak. Beliau dan suami menggantungkan hidupnya pada 12 ekor bebek yang dimanfaatkan telurnya sebagai mata pencarian sehari-hari. Itu pun jika bertelur.

Kondisi Ibu Latifah
Untuk biaya pengobatan sudah ada bantuan dari BPJS namun keluarga Ibu latifah sangat membutuhkan bantuan untuk keperluan sehari-hari selama pengobatan berlangsung karena mereka hanya hidup berdua. Beliau yg tadinya di rawat d RS Ratu Zalecha sudh d rujuk ke RS Ulin. jika beliau dirujuk ke surabaya, yang ditanggung hanya biaya pengobatan. Untuk biaya transport dan keperluan beliau dan keluarga belum ada.

Mahasiswa STIE Pancasetia Banjarmasin mengantarkan Ibu Latifah ke RS Ulin Banjarmasin. Benar kata dr. Sasongko Spesialis Onkologi, bahwa kankernya akibat dari pemasangan gigi palsu yang tidak sesuai aturan.
Kondisi Ibu Latifah sepanjang perawatan menunjukkan perkembangan yang baik.
Keterangan kronologis:

31 Juli 2016: pertamakali terdokumentasikan.

2 September 2016: dokumentasi kedua.

20 September 2016: diantarkan ke RS Ulin Banjarmasin.

21 September 2016: pemeriksaan CT Scan

27 September 2016: Kemo tahap pertama

8 November 2016: transfusi darah untuk persiapan kemo tahap berikutnya. Tampak rambut sudah mulai rontok.

8 Januari 2017: Dokumentasi perkembangan perawatan.

9 Januari 2017: persiapan kemo ke-5
Melalui perwakilan BEM Pancasetia, Kortugi memberikan donasi kepada Ibu Latifah. Saat itu Ibu Latifah sudah menjalani 6 kali kemoterapi.

Tapi di tengah proses pengobatan, Ibu Latifah menyerah. Tidak kuat lagi merasakan efek samping dari pengobatan tersebut dan memutuskan menghentikannya. Selama proses penghentian pengobatan,  kondisinya semakin memprihatinkan. Hingga pada tanggal 28 januari 2018, beliau meninggal.

Dari dokumentasi kasus-kasus di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa SATU OKNUM yang berbuat kerusakan akibat perbuatannya yang tidak dilandasi keilmuan membuat satu tim profesional harus mencurahkan pikiran mereka untuk menyelamatkan satu nyawa. Yang mana satu oknum itu bisa jadi sekarang sedang kenyang menikmati uang hasil pekerjaan randomnya dan sedang mengerjakan satu lagi dan lagi, sebuah tindakan dengan kesalahan yang sama di orang lain. Tak pernah dilaporkan atau dituntut.

Baru tau kan bahwa PR atau tugas terberat itu BUKAN dari guru atau dosenmu yang jauh lebih pintar dibanding kamu sebagai muridnya. Di kehidupan sehari-hari, tugas terberat justru berasal dari orang yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali.

Maka berilmulah agar kamu tidak bikin susah hidupmu dan hidup orang lain.







Tentang COVID-19
Penyakit coronavirus (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus yang baru ditemukan.

Pada tanggal 11 Februari 2020, WHO telah meresmikan nama penyakit ini sebagai COVID-19 dan di tanggal yang sama pula, International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) memberi nama virus penyebab penyakit ini dengan nama severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Nama ini dipilih karena virus tersebut secara genetik terkait dengan coronavirus yang bertanggung jawab atas wabah SARS tahun 2003. Meski terkait, kedua virus itu berbeda. 

Gejala
Sebagian besar orang yang terinfeksi virus ini akan mengalami gangguan pernapasan. Orang yang lebih tua, atau mereka yang memiliki masalah medis penyerta seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan kanker akan berisiko terjadi penyakit yang lebih serius.

Pencegahan
Cara terbaik untuk mencegah dan memperlambat penularan adalah memberi jarak dan menghindari kontak dengan orang lain dan seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air.

Penyebaran
Virus COVID-19 menyebar terutama melalui percikan air liur atau keluar dari hidung ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, jadi penting bagi Anda untuk membiasakan perilaku ketika batuk dan bersin yang aman yaitu menutup mulut dan hidung Anda ke siku yang tertekuk ketika bersin atau batuk.

Berstatus Pandemi
Rabu, 11 Maret 2020, sekitar tiga bulan sejak wabah Coronavirus atau COVID-19 menyebar ke berbagai negara, World Health Organization (WHO) akhirnya menetapkan penyakit ini sebagai 'pandemik' karena terjadi di seluruh dunia, dengan cakupan area yang luas, melintasi batas-batas negara dan berdampak pada orang dalam jumlah besar.

Ketika artikel ini ditulis, WHO mencatat angka di seluruh dunia sebanyak 332.966 kasus yang terkonfirmasi, 14.511 meninggal dan 191 negara, atau area yang terkena.

Data WHO update 23 Maret 2020



Di Indonesia sendiri, data Kemenkes menunjukkan angka sebagai berikut:

Data Kemenkes update 23 Maret 2020


Risiko Tinggi
Terkait dengan cara penyebaran COVID-19, The New York Times merilis artikel berjudul 
The Workers Who Face the Greatest Coronavirus Risk. Artikel ini menunjukkan grafik skala risiko yang dialami oleh para pekerja dengan profesinya masing-masing.

Grafik skala risiko pekerja terhadap Penularan Coronavirus. Sumber: The New York Times.
Setiap lingkaran mewakili profesi masing-masing pekerja. Semakin besar lingkarannya, semakin banyak orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Garis vertikal menunjukkan skala seberapa sering pekerja tersebut berhadapan dengan penyakit dan infeksi. Sedangkan garis horizontal menunjukkan skala seberapa dekat pekerja tersebut berdekatan dengan orang lain.

Profesional medis di bidang kedokteran gigi memiliki risiko paling tinggi, karena dalam pekerjaannya selalu berhadapan dengan penyakit dari pasien dan mengerjakan pasien dari jarak yang sangat dekat.

Profesional Medis di Kedokteran Gigi Memiliki Risiko Tinggi
Atas dasar risiko ini, Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB-PDGI) mengeluarkan Pedoman Pelayanan Kedokteran Gigi selama pandemi virus COVID-19. Dokter gigi dihimbau untuk melakukan prosedur skrining pasien untuk deteksi di awal, menggunakan standar perlindungan diri dan pasien dengan ketat serta memperhatikan prosedur sterilisasi baik dari alat dan tempat.

Perawatan Gigi Elektif
Dokter gigi dihimbau untuk menunda tindakan tanpa keluhan simtomatik, bersifat elektif, perawatan estetis, tindakan dengan menggunakan bur/scaler/suction. Alat-alat dokter gigi seperti bur, scaler (alat untuk pembersihan karang gigi dan suction (penyedot ludah) berisiko menciptakan percikan-percikan ke udara dari mulut pasien. dari percikan inilah virus juga bisa menyebar dengan mudah ke orang lain.

Pasien juga wajib memahami bahwa perawatan elektif yang dimaksud adalah perawatan darurat seperti:
  1. Nyeri yang tidak tertahankan.
  2. Gusi bengkak akibat infeksi
  3. Perdarahan di rongga mulut yang tidak terkontrol.
  4. Trauma pada gigi dan tulang wajah akibat kecelakaan.

Anjuran perawatan elektif dari PB-PDGI

Pemeriksaan radiologi (x-ray) untuk keperluan perawatan gigi juga ada aturannya. Tidak disarankan untuk melakukan Rontgent intra oral tapi lebih diutamakan untuk melakukan Rontgent ekstraoral.

Panduan Radiologi Kedokteran Gigi di Tengah Pandemi COVID-19


Maka sebagaimana yang telah di atur di atas, perawatan gigi yang lain sebaiknya ditunda dulu. intinya adalah menahan diri untuk tidak keluar rumah kecuali dalam keadaan darurat. Jika dalam keadaan mendesak, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:
  1. Cari tahu klinik yang buka dengan cara menelpon atau cek sosial medianya. Tidak perlu berkeliling untuk mencari klinik yang buka. Ingat: tetap tinggal di rumah adalah upaya untuk memutus rantai penyebaran virusnya.
  2. Untuk perawatan gigi yang sudah terjadwal jauh-jauh hari sebelum darurat COVID-19 seperti kontrol behel, pencabutan, penambalan atau kontrol lainnya yang tidak bersifat darurat, apalagi yang hanya ingin perawatan estetik seperti pemasangan behel dan veneer mumpung diliburkan, dimohon untuk menunda hingga situasi terkendali. Libur di saat seperti ini ada tujuannya, yaitu agar masyarakat tetap di rumah dan meminimalkan kontak dengan orang lain. Maka dimohon kerjasamanya.
  3. Informasikan dengan jujur apa keluhan Anda dan kondisi kesehatan Anda apakah sedang tidak sehat, flu, pilek atau tidak enak badan agar fasilitas kesehatan yang akan Anda datangi bisa mempersiapkan pencegahan yang diperlukan.
  4. Informasikan juga jika Anda pernah bepergian ke Area atau berkontak dengan orang yang terconfirmasi COVID-19.
  5. Meskipun klinik gigi membatasi layanannya khusus untuk kasus darurat, jangan mencari layanan yang tidak berkompeten seperti tukang gigi atau tukang salon gigi hanya untuk mengejar perawatan estetika. karena selain perawatannya tidak berdasarkan kaidah medis, mereka tidak memiliki pengetahuan tentang prosedur pencegahan penyebaran COVID-19
  6. Ikuti perkembangan informasi dari sumber terpercaya.

Kelanggakan APD (Alat Perlindungan Diri)
Beberapa klinik swasta mungkin memutuskan untuk menutup sementara layanannya dikarenakan Alat Perlindungan Diri (APD) yang merupakan alat standar pencegahan infeski untuk dokter seperti masker, sarung tangan lateks, face shield (pelindung muka) sudah sangat langka. kalaupun ada, harganya sangat tidak manusiawi.

Para profesional medis sangat menyayangkan bahwa kelangkaan ini adalah akibat panic buying masyarakat yang memburu APD yang justru tidak mereka perlukan. Karena permintaan masyarakat sangat tinggi, beberapa oknum memanfaatkan situasi ini dengan menimbun persediaan APD kemudian menjualnya ke masyarakat dengan harga sangat tinggi. Akhirnya, jatah untuk profesional medis menjadi sangat langka.

Beberapa influencer juga menyebarkan informasi dan himbauan yang salah. Misalnya saja himbauan untuk menggunakan sarung tangan lateks yang baru-baru ini digaungkan oleh seorang influencer dengan menampilkan fotonya menggunakan sarung tangan lateks ketika berbelanja di mall. Meski postingan sudah dihapus, masyarakat kadung mengikuti perilaku influencer-nya ini.


Seorang influencer memposting penggunaan sarung tangan lateks ketika berbelanja dan menganjurkannya kepada masyarakat.


Pemakaian sarung tangan untuk masyarakat ketika keluar rumah tidak memiliki manfaat apapun. Pertama, karena yang paling aman tetaplah tinggal di dalam rumah bukan untuk keliling di tempat-tempat umum. Kedua, sarung tangan yang dipakai di luar rumah tetap akan menyentuh berbagai macam barang dan memindahkan virus dan bakteri dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan si pemakai tetap akan menyentuh barang-barang pribadinya seperti uang, dompet, tas, pakaian, lebih parah lagi jika kelupaan memegang wajah.

Sarung tangan lateks ini sangat dibutuhkan oleh tim medis terutama yang bertugas di garda depan penanganan pasien COVID-19. Jika masyarakat melatahi untuk membelinya, dokter tidak akan kebagian. Bagaiaman dokter-dokter itu akan menyalamatkan dirinya sendiri dan orang lain? Jika memang dirasa perlu menggunakan sarung tangan, gunakan sarung tangan dapur. Jangan memakai jatah medis.

Kelangkaan juga menyebabkan beberapa dokter terpaksa memakai jas hujan. Miris sekali melihat kejadian ini.

Dokter gigi menggunakan jas hujan karena kelangkaan APD
Melihat situasi ini, mungkin bisa dianalogikan dengan seorang tentara yang sedang berjuang di garis depan, tapi tidak mampu menyediakan baju antipeluru. Karena dirampas oleh rakyatnya sendiri.

Perlindungan seadanya dengan jas hujan ini terpaksa digunakan untuk menghindari percikan dari mulut pasien yang berpotensi menularkan virus.

Apa dengan melihat foto-foto ini, kemudian masyarakat juga akan latah dan melakukan panic buying jas hujan?


Para profesional medis yang berada di garda depan menangani pasien COVID-19 itu sebenarnya adalah untuk misi memenangkan peperangan melawan virus. Jangan jadikan perjuangan mereka sebagai misi bunuh diri dengan APD yang tidak standar hanya karena ego dan kebodohan masyarakatnya.

Tuesday, March 24, 2020



Hingga artikel ini ditulis, kemenkes telah melaporkan jumlah positif COVID-19 yang ada di Indonesia adalah sebanyak 579 orang, yang meninggal 49 orang dan yang sembuh sebanyak 30 orang. Kita tidak berharap jumlah penderitanya akan bertambah di kemudian hari.

Data kemenkes per 23 Maret 2020


Di Indonesia, status COVID-19 ditetapkan sebagai bencana nasional. Di tengah-tengah masyarakat sendiri, kewaspadaan dan kesadaran untuk menanggulangi penyebarannya semakin meningkat, meski ada sebagian yang panik dan sebagian yang lain menyikapi dengan kewaspadaan yang wajar saja.

Segala informasi mengemas corona virus sebagai pembahasan seksi yang akan selalu trending topic untuk beberapa pekan terakhir dan beberapa pekan mendatang. Segalanya dibahas dari segala sudut pandang keilmuan dan pastinya di tengah masyarakat plus-sixty-two,  tidak akan pernah terlepas dari kajian-kajian politis, agamis dan konspiratif.

Dan tentu saja, tim kortugi juga memiliki gagasannya sendiri. Namun gagasan ini bukan untuk menambah kekhawatiran di kondisi yang sedang tidak kondusif saat ini, tapi bukankah jika kewaspadaan itu baru muncul sekarang, bukti bahwa urgensi soal kortugi di tengah masyarakat ini memang tidak pernah menjadi prioritas si pemangku kebijakan.

Kita semua paham, bahwa masalah praktisi gigi ilegal ini tak akan pernah surut jika hanya sekadar menggaungkan isu di sosial media tanpa ada pergerakan yang dipimpin oleh rumusan kebijakan. Urgensi di ranah ini sudah biasa terlambat, jadi silakan saja jika ingin ditanggapi secara biasa saja seperti di tahun-tahun sebelum COVID-19 merebak.

Gagasan kami adalah sebuah skenario yang cukup menakutkan ketika harus dikaji dalam kapasitas profesional medis. Yaitu soal bagaimana jika COVID-19 itu tersebar lewat jalur tukang salon gigi yang pekerjaannya nirsteril dan tak mengenal SOP tentang itu ataupun tentang standar perlindungan diri dari infeksi silang.

Gagasan ini sangat berdasar, karena The New York Times merilis sebuah artikel berjudul  "The Workers Who Face the Greatest Coronavirus Risk" yang menyebutkan bahwa Dokter Gigi memiliki risiko sangat tinggi dibanding profesi lainnya dalam hal paparan terhadap penularan COVID-19. Grafik tersebut menunjukkan bahwa Dokter Gigi dalam menjalankan kegiatan profesionalnya, memiliki kedekatan fisik dengan orang lain, dalam hal ini pasien, dan sekaligus memiliki tingkat paparan terhadap penyakit yang begitu tinggi.

Dokter gigi memeiliki risiko tinggi seiring dengan tingginya kedekatan fisik dengan pasien dan besarnya paparan terhadap penyakit selama melaksanakan tugas profesionalnya. Sumber: The New York Times


Maka dari itulah Dokter Gigi bersama seluruh anggota organisasi Persatuan Dokter Gigi Indonesia sepakat membuat satu stadar nasional guna menjamin keamanan baik Dokter Gigi dan pasien. Standar ini berupa Pedoman Pelayanan Kedokteran Gigi Selama Pandemi Virus COVID-19 yang dikeluarkan oleh PB PDGI.

Dokter Gigi sudah punya panduan prosedur yang harus dilaksanakan dengan sangat ketat. Lantas, apa kabar dengan para praktisi gigi ilegal yang aktivitas pekerjaannya menjadikan dirinya punya risiko yang sama dengan dokter gigi? dan sayangnya, mereka tidak punya ilmu sedikitpun soal stadar penanggulangan penyebaran infeksi.

Disamping prosedur tindakannya yang tidak standar dan terbukti membahayakan kesehatan pelanggan, sterilitasasi para praktisi gigi ilegal juga sangat diragukan, terlebih yang dikerjakan adalah area mulut dan wajah. COVID-19 menyebar serupa sebagaimana virus flu. Bahkan lebih agresif dan memiliki efek yang lebih parah. Menurut WHO, ketika seseorang yang menderita COVID-19 batuk atau bersin, mereka melepaskan percikan yang mengandung virus corona. Percikan ini yang akan menempel pada benda-benda di sekitarnya. Orang bisa terpapar atau terinfeksi COVID-19 dengan menyentuh permukaan atau benda yang terkontaminasi - dan kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut. Jika Anda berdiri pada jarak yang begitu dekat dari seseorang dengan COVID-19, Anda dapat terjangkit melalui batuk, bersin atau cipratan dari ludahnya.

Kedekatan operator dengan pelanggan seperti ini akan mempermudah penyebaran infeksi cipratan ludah satu sama lain. Peletakan instrumen sedemikian rupa membuat kontaminasi silang antara alat dengan orang atau media yang berkontak dengan alat tersebut.


Tukang salon gigi tidak begitu aware dengan risiko ini. Disamping tidak pernah mengenyam pendidikan yang mengajarkan SOP standar perlindungan diri, dia juga tidak tahu menahu tentang betapa complicated-nya masalah ini. Bayangkan saja, rantai penyebarannya akan melibatkan orang-orang yang random dengan perilaku yang random juga. Jelas para pelanggannya tidak tercatat secara administratif baik dari kunjungannya maupun tindakannya.

Pertama, akan ada risiko infeksi antara pelanggan dengan operator atau sebaliknya. Atau bisa jadi dengan linkungan kerjanya. Tempat penanganan pelanggan sama sekali tidak memiliki standar sterilisasi sebagai tempat tindakan medis karena dilakukan di mana saja sesuai kesepakatan. Bisa di rumah, bisa di hotel, kos-kosan atau dimanapun minimal cukup ruang untuk berbaring. Sterilitas alat juga tidak bisa dipastikan. Kebanyakan untuk jasa tukang salon gigi keliling akan membawanya dalam sebuah kotak portabel yang bercampur dengan barang-barang lain.

Dimana saja, asal ada tempat untuk berbaring.


Alat-alat medis berserakan dicampur dengan peralatan lain. Sterilisasi sudah pasti diabaikan.


Tukang behel sedang memasang behel di tempat yang tidak proper 

Tukang gigi keliling akan mengerjakan pelanggannya dimanapun mereka membuat janjian. Faktor keamanan dan sterilitas ruangan tidak pernah dipikirkan.


Seseorang bisa saja membawa virus tanpa harus ada tanda-tanda sakit. Para pembawa virus ini bahkan bisa dengan mudah menularkan virusnya ke orang lain bahkan di saat dia tidak ada gejala sakit. Inilah yang menyebabkan jumlah sebenarnya dari yang positif COVID-19 ini jauh lebih banyak daripada jumlah data yang hanya mendeteksi seseorang dari gejala penyakitnya saja. Tentu saja tanpa adanya gejala, orang tidak memiliki kecurigaan bahwa dia sedang dalam kondisi positif. tidak memeriksakan dan tidak terdeteksi. Dengan kata lain, pelanggan tukang behel, katakanlah, kedatangan pelanggan yang masih sehat-sehat saja tapi sudah membawa COVID-19. Maka dengan minimnya kelengkapan APD (Alat Perlindungan Diri), infeksi sudah pasti akan terjadi. Tinggal tunggu waktu keduanya akan mendapatkan gejala serius dari penyakit yang dakibatkan oleh COVID-19 ini.

Masuk ke tindakan, kelengkapan operator akan selalu bisa disangsikan. Dari masker yang melorot yang hanya menutupi mulut dan dengan hidung yang terbuka, bahkan yang diberi masker justru mata si pelanggan hingga lupa atau sengaja tidak pakai handschoen alias bertelanjang tangan.

Tukang behel mengerjakan pelanggan tanpa Alat Pelindung Diri seperti masker dan sarung tangan
Apa faedahnya masker yang melorot?
Si pelanggan ikutan dimasker


Alat-alat yang memasuki mulut, seberapa sempurna sterilisasinya? Alatnya sendiri alat pertukangan, atau alat yang sama sekali tidak proper dan tidak lazim dimasukkan ke mulut. Jika kita tidak sedang bebrbicara soal COVID-19, risiko terjadinya penularan penyakit tetap ada melalui perlukaan di gusi. Yang mana, akan menciptakan ending penyakit yang juga tidak pernah sepele. Hepatitis atau HIV, katakanlah.

Alat pertukangan yang masuk ke mulut
Alat-alat yang tidak lazim untuk dipakai di rongga mulut


Interaksi operator dengan pelanggan ini juga tidak selalu private. Kadang dalam satu ruangan, pelanggan berikutnya mengantri bergerombol di ruangan yang sama dengan si pelanggan yang sedang dikerjakan. Bahkan tidak hanya 1 operator, dua operator atau lebih mengerjakan bersama-sama bercampur jadi satu di situ.


Behel masal


Selesai penangan pelanggan, guna menambah sumber keuangan, si tukang salon ini akan mengadakan kursus. Murid kursus juga akan mengerjakan orang lain sebagai korban percobaannya. Bertambah pula jalur penularannya seiring dengan si murid yang akan menjadi operator dan guru kursus juga di kemudian hari, begitu seterusnya kebodohan itu diwariskan dan disebarluaskan turun temurun secara viral semudah persebaran virus penyakit itu sendiri.

Penyelenggaraan kursus ilegal dengan prosedur yang membahayakan baik untuk si model coba dan si operator dalam hal penularan infeksi.

Dengan mendapatkan sertifikat, peserta kursus akan merasa sudah kompeten dan siap menjadi pelaku usaha salon gigi atau bahkan menjadi pengajar kursus juga untuk para peserta didik bbaru berikutnya.


Maka tak heran, pelanggannya bisa ribuan. Sekali lagi dengan data administratif yang tidak bisa diharapkan jika kelak otoritas kesehatan harus melakukan tracing ketika ada kecurigaan COVID-19 yang bersumber dari lingkungan kerjanya.

Ranah estetika gigi ini sesuai dengan kecenderungan penyebaran tren lifestyle. Yang artinya, ada interaksi kelompok sosialita di dalamnya. Maka jika satu orang dari pelanggan salon gigi ini pulang dengan asesoris gigi impiannya, seketika itu akan ada interaksi show off di hadapan kelompoknya. Atau bahkan saling ajak dan saling merekomendasikan. Maka bisa dibilang, risiko persebaran COVID-19, sebanding kecepatannya dengan persebaran interaktif tren itu sendiri. Dari satu orang ke orang lain dan dari kelompok satu ke kelompok yang lain. Diantara kelompok sosialita, risiko ini akan lebih besar dengan kemudahan-kemudahan konsumtif terhadap produk layanan salon gigi yaitu aktifitas arisan behel atau veneer.

Arisan veneer


Terlebih di skenario situasi liburan dan work from home, masyarakat bisa jadi memanfaatkan momen ini untuk mempercantik diri, dengan pasang behel atau veneer misalnya. Di sisi lain, layanan dokter gigi yang hanya memfokuskan pada tindakan darurat saja tidak mungkin melayani pemasangan behel dan veneer. Kemana lagi si masyarakat ini memenuhi hasrat bergayanya kalau bukan ke tukang salon gigi?

Para pebisnis salon gigi ini tak jarang juga memakai endorsement artis. Maka risiko penularan ke artis beserta seluruh followersnya sangat memungkinkan. Apalagi tidak semua artis endorser itu memiliki wawasan soal isu kortugi ini.

Endorsement artis


Pesan untuk masyarakat, jika ada praktisi gigi ilegal, jangan dilarisi. Karena penyelenggaraan layanan yang ilegal selalu diikuti dengan pelanggaran SOP yang seharusnya bisa menjamin keamanan baik operator maupun pelanggannya. Dan bagaimana jika yang dilanggar adalah SOP standar sterilisasi?

Sekali lagi, gagasan ini seharusnya tidak membuat masyarakat semakin terbebani oleh kecemasan yang sebelumnya memang tidak terpikirkan. Karena seharusnya masalah praktisi gigi ilegal ini disikapi sejak dulu. Menundanya sama artinya membuat tugas semakin menumpuk di kemudian hari yang akan muncul sebagai fenomena-fenomena kerusakan yang semakin nyata di tengah masyarakat.

Baru tau kan bahwa PR atau tugas terberat itu BUKAN dari guru atau dosenmu yang jauh lebih pintar dibanding kamu sebagai muridnya. Di kehidupan sehari-hari, tugas terberat justru berasal dari orang yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali.

Powered by Blogger.

Follow Aja Dulu

Other Platform

Popular Posts