Highlight

Petaka Filler Payudara Seharga 13,5 Juta Salon Zaskia Studio & Beauty

Zaskia Studio & Beauty Bar melakukan perawatan gigi hingga ke filler payudara Salon yang makin serba bisa itu perlu dipertanyakan. Janga...

Thursday, March 26, 2020



Tentang COVID-19
Penyakit coronavirus (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus yang baru ditemukan.

Pada tanggal 11 Februari 2020, WHO telah meresmikan nama penyakit ini sebagai COVID-19 dan di tanggal yang sama pula, International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) memberi nama virus penyebab penyakit ini dengan nama severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Nama ini dipilih karena virus tersebut secara genetik terkait dengan coronavirus yang bertanggung jawab atas wabah SARS tahun 2003. Meski terkait, kedua virus itu berbeda. 

Gejala
Sebagian besar orang yang terinfeksi virus ini akan mengalami gangguan pernapasan. Orang yang lebih tua, atau mereka yang memiliki masalah medis penyerta seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan kanker akan berisiko terjadi penyakit yang lebih serius.

Pencegahan
Cara terbaik untuk mencegah dan memperlambat penularan adalah memberi jarak dan menghindari kontak dengan orang lain dan seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air.

Penyebaran
Virus COVID-19 menyebar terutama melalui percikan air liur atau keluar dari hidung ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, jadi penting bagi Anda untuk membiasakan perilaku ketika batuk dan bersin yang aman yaitu menutup mulut dan hidung Anda ke siku yang tertekuk ketika bersin atau batuk.

Berstatus Pandemi
Rabu, 11 Maret 2020, sekitar tiga bulan sejak wabah Coronavirus atau COVID-19 menyebar ke berbagai negara, World Health Organization (WHO) akhirnya menetapkan penyakit ini sebagai 'pandemik' karena terjadi di seluruh dunia, dengan cakupan area yang luas, melintasi batas-batas negara dan berdampak pada orang dalam jumlah besar.

Ketika artikel ini ditulis, WHO mencatat angka di seluruh dunia sebanyak 332.966 kasus yang terkonfirmasi, 14.511 meninggal dan 191 negara, atau area yang terkena.

Data WHO update 23 Maret 2020



Di Indonesia sendiri, data Kemenkes menunjukkan angka sebagai berikut:

Data Kemenkes update 23 Maret 2020


Risiko Tinggi
Terkait dengan cara penyebaran COVID-19, The New York Times merilis artikel berjudul 
The Workers Who Face the Greatest Coronavirus Risk. Artikel ini menunjukkan grafik skala risiko yang dialami oleh para pekerja dengan profesinya masing-masing.

Grafik skala risiko pekerja terhadap Penularan Coronavirus. Sumber: The New York Times.
Setiap lingkaran mewakili profesi masing-masing pekerja. Semakin besar lingkarannya, semakin banyak orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Garis vertikal menunjukkan skala seberapa sering pekerja tersebut berhadapan dengan penyakit dan infeksi. Sedangkan garis horizontal menunjukkan skala seberapa dekat pekerja tersebut berdekatan dengan orang lain.

Profesional medis di bidang kedokteran gigi memiliki risiko paling tinggi, karena dalam pekerjaannya selalu berhadapan dengan penyakit dari pasien dan mengerjakan pasien dari jarak yang sangat dekat.

Profesional Medis di Kedokteran Gigi Memiliki Risiko Tinggi
Atas dasar risiko ini, Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB-PDGI) mengeluarkan Pedoman Pelayanan Kedokteran Gigi selama pandemi virus COVID-19. Dokter gigi dihimbau untuk melakukan prosedur skrining pasien untuk deteksi di awal, menggunakan standar perlindungan diri dan pasien dengan ketat serta memperhatikan prosedur sterilisasi baik dari alat dan tempat.

Perawatan Gigi Elektif
Dokter gigi dihimbau untuk menunda tindakan tanpa keluhan simtomatik, bersifat elektif, perawatan estetis, tindakan dengan menggunakan bur/scaler/suction. Alat-alat dokter gigi seperti bur, scaler (alat untuk pembersihan karang gigi dan suction (penyedot ludah) berisiko menciptakan percikan-percikan ke udara dari mulut pasien. dari percikan inilah virus juga bisa menyebar dengan mudah ke orang lain.

Pasien juga wajib memahami bahwa perawatan elektif yang dimaksud adalah perawatan darurat seperti:
  1. Nyeri yang tidak tertahankan.
  2. Gusi bengkak akibat infeksi
  3. Perdarahan di rongga mulut yang tidak terkontrol.
  4. Trauma pada gigi dan tulang wajah akibat kecelakaan.

Anjuran perawatan elektif dari PB-PDGI

Pemeriksaan radiologi (x-ray) untuk keperluan perawatan gigi juga ada aturannya. Tidak disarankan untuk melakukan Rontgent intra oral tapi lebih diutamakan untuk melakukan Rontgent ekstraoral.

Panduan Radiologi Kedokteran Gigi di Tengah Pandemi COVID-19


Maka sebagaimana yang telah di atur di atas, perawatan gigi yang lain sebaiknya ditunda dulu. intinya adalah menahan diri untuk tidak keluar rumah kecuali dalam keadaan darurat. Jika dalam keadaan mendesak, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:
  1. Cari tahu klinik yang buka dengan cara menelpon atau cek sosial medianya. Tidak perlu berkeliling untuk mencari klinik yang buka. Ingat: tetap tinggal di rumah adalah upaya untuk memutus rantai penyebaran virusnya.
  2. Untuk perawatan gigi yang sudah terjadwal jauh-jauh hari sebelum darurat COVID-19 seperti kontrol behel, pencabutan, penambalan atau kontrol lainnya yang tidak bersifat darurat, apalagi yang hanya ingin perawatan estetik seperti pemasangan behel dan veneer mumpung diliburkan, dimohon untuk menunda hingga situasi terkendali. Libur di saat seperti ini ada tujuannya, yaitu agar masyarakat tetap di rumah dan meminimalkan kontak dengan orang lain. Maka dimohon kerjasamanya.
  3. Informasikan dengan jujur apa keluhan Anda dan kondisi kesehatan Anda apakah sedang tidak sehat, flu, pilek atau tidak enak badan agar fasilitas kesehatan yang akan Anda datangi bisa mempersiapkan pencegahan yang diperlukan.
  4. Informasikan juga jika Anda pernah bepergian ke Area atau berkontak dengan orang yang terconfirmasi COVID-19.
  5. Meskipun klinik gigi membatasi layanannya khusus untuk kasus darurat, jangan mencari layanan yang tidak berkompeten seperti tukang gigi atau tukang salon gigi hanya untuk mengejar perawatan estetika. karena selain perawatannya tidak berdasarkan kaidah medis, mereka tidak memiliki pengetahuan tentang prosedur pencegahan penyebaran COVID-19
  6. Ikuti perkembangan informasi dari sumber terpercaya.

Kelanggakan APD (Alat Perlindungan Diri)
Beberapa klinik swasta mungkin memutuskan untuk menutup sementara layanannya dikarenakan Alat Perlindungan Diri (APD) yang merupakan alat standar pencegahan infeski untuk dokter seperti masker, sarung tangan lateks, face shield (pelindung muka) sudah sangat langka. kalaupun ada, harganya sangat tidak manusiawi.

Para profesional medis sangat menyayangkan bahwa kelangkaan ini adalah akibat panic buying masyarakat yang memburu APD yang justru tidak mereka perlukan. Karena permintaan masyarakat sangat tinggi, beberapa oknum memanfaatkan situasi ini dengan menimbun persediaan APD kemudian menjualnya ke masyarakat dengan harga sangat tinggi. Akhirnya, jatah untuk profesional medis menjadi sangat langka.

Beberapa influencer juga menyebarkan informasi dan himbauan yang salah. Misalnya saja himbauan untuk menggunakan sarung tangan lateks yang baru-baru ini digaungkan oleh seorang influencer dengan menampilkan fotonya menggunakan sarung tangan lateks ketika berbelanja di mall. Meski postingan sudah dihapus, masyarakat kadung mengikuti perilaku influencer-nya ini.


Seorang influencer memposting penggunaan sarung tangan lateks ketika berbelanja dan menganjurkannya kepada masyarakat.


Pemakaian sarung tangan untuk masyarakat ketika keluar rumah tidak memiliki manfaat apapun. Pertama, karena yang paling aman tetaplah tinggal di dalam rumah bukan untuk keliling di tempat-tempat umum. Kedua, sarung tangan yang dipakai di luar rumah tetap akan menyentuh berbagai macam barang dan memindahkan virus dan bakteri dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan si pemakai tetap akan menyentuh barang-barang pribadinya seperti uang, dompet, tas, pakaian, lebih parah lagi jika kelupaan memegang wajah.

Sarung tangan lateks ini sangat dibutuhkan oleh tim medis terutama yang bertugas di garda depan penanganan pasien COVID-19. Jika masyarakat melatahi untuk membelinya, dokter tidak akan kebagian. Bagaiaman dokter-dokter itu akan menyalamatkan dirinya sendiri dan orang lain? Jika memang dirasa perlu menggunakan sarung tangan, gunakan sarung tangan dapur. Jangan memakai jatah medis.

Kelangkaan juga menyebabkan beberapa dokter terpaksa memakai jas hujan. Miris sekali melihat kejadian ini.

Dokter gigi menggunakan jas hujan karena kelangkaan APD
Melihat situasi ini, mungkin bisa dianalogikan dengan seorang tentara yang sedang berjuang di garis depan, tapi tidak mampu menyediakan baju antipeluru. Karena dirampas oleh rakyatnya sendiri.

Perlindungan seadanya dengan jas hujan ini terpaksa digunakan untuk menghindari percikan dari mulut pasien yang berpotensi menularkan virus.

Apa dengan melihat foto-foto ini, kemudian masyarakat juga akan latah dan melakukan panic buying jas hujan?


Para profesional medis yang berada di garda depan menangani pasien COVID-19 itu sebenarnya adalah untuk misi memenangkan peperangan melawan virus. Jangan jadikan perjuangan mereka sebagai misi bunuh diri dengan APD yang tidak standar hanya karena ego dan kebodohan masyarakatnya.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Follow Aja Dulu

Other Platform

Popular Posts