Highlight

Petaka Filler Payudara Seharga 13,5 Juta Salon Zaskia Studio & Beauty

Zaskia Studio & Beauty Bar melakukan perawatan gigi hingga ke filler payudara Salon yang makin serba bisa itu perlu dipertanyakan. Janga...

Thursday, March 26, 2020


Kanker di Indonesia menjadi penyebab kematian nomer 7 setelah stroke, TBC, hipertensi, trauma, perinatal dan diabetes.

Kanker ganas yang paling banyak terjadi di rongga mulut, sekitar 90-95% total keganasan, adalah karsinoma sel skuamosa (Squamous Cell Carcinoma/SCC).

Tau alasannya kenapa kanker dan zodiak berlogo kepiting itu sama-sama disebut CANCER dalam bahasa Inggris?

Karena kanker bisa menyebar ke segala arah seperti arahnya kaki-kaki kepiting.

Jika sudah begini, mana tuh yang tempo hari berdemonstrasi menuntut hak untuk melanjutkan pekerjaannya? Tidak sudi profesinya ditiadakan, pun juga tidak mau dikriminalisasikan dengan Undang Undang.

Riuh sekali mereka itu ketika berunjuk rasa menuntut hak hidup pada pemerintah di saat si korban juga sedang memohon untuk bisa bertahan hidup pada Tuhan.

Oknum praktisi gigi ilegal inilah sebenar-benarnya kanker di tengah-tengah masyarakat. Menyebar ke segalah arah tak terkendali dan tak terawasi. Kekuatan hukum tak sanggup membatasi dan kebijakan pemerintah belum mampu mengeradikasi.

Kanker berarti berlomba berpacu dengan waktu. Keberhasilan pengobatan ditentukan seberapa awal terdeteksi dan seberapa cepat diambil tindakan. Pun setelah sembuh, masih ada risiko kambuhan.

Untuk mengupayakan kesehatan secara holistik, perawatan pasien berpedoman pada risiko individual. Bukan pada risiko statistik. Jika ada 1 saja kejadian di antara 100 orang, maka risiko yang hanya sebesar 1% itu tak boleh diabaikan. Standar pemeriksaan dan tindakan harus mampu menyesuaikan dengan segala macam kemungkinan.

Praktisi gigi ilegal yang masih bandel buka lapak, biasanya karena merasa pelanggannya aman-aman saja. Tak pernah ada yang komplain.

Ya iya, jika ada permasalahan lebih lanjut, pasti ga ke dia lagi periksanya.

Padahal di dunia medis, satu kemungkinan kecil saja bisa menjadi standar precaution untuk keseluruhan tindakan yang lain.

Analoginya sama seperti di dunia penerbangan, ga mungkin pramugari memutuskan untuk membiarkan penumpang mengaktifkan HP meskipun dia ga pernah atau jarang sekali mengalami sendiri adanya gangguan sinyal pada jalur komunikasi pilot.

Di dunia medis, kejadian risiko medis berupa pasien dengan bakat keganasan atau kanker memang bukan pengalaman yang bisa setiap hari ditemui. Tapi risiko itu nyata adanya. Begitu juga dengan risiko lain terkait kondisi kesehatan setiap individu yang mewajibkan standar pemeriksaan dan perawatan jangan sampai ada yang terabaikan.

Selama penanganan itu menyangkut keselamatan manusia, tindakan prosedural harus berdasar pada risiko individual. Bukan pada probabilitas kejadian yang PERNAH ditanganinya semata.

Wawasan ini berlaku juga untuk si pemakai jasa praktisi ilegal. Pelanggan lain baik-baik saja, di kamu belum tentu aman karena praktisi tak berilmu ini tak mampu menganalisis risiko individual yang ada di tubuhmu.

Berikut adalah kasus-kasus kanker dan dugaan yang terjadi akibat penanganan tukang gigi

1. Suspect/dugaan Squamous Cell Carcinoma pascapencabutan

Dokumentasi kasus oleh drg. Ahmad Affandi
Wanita, 49 tahun, 2 minggu sebelumnya melakukan pencabutan gigi di perawat umum di dekat rumahnya yang juga melayani pembuatan gigi palsu. Menurut pengakuannya, gigi dicabut dengan cara digerinda.


Terdapat bercak putih kasar, mengeluarkan nanah dan bau tidak sedap. Diagnosis sementara Squamous Cell Carcinoma. Pasien dirujuk ke onkolog untuk menegakkan diagnosis.

Pasien telah dirujuk untuk pemeriksaan selanjutnya. Sayangnya, tipikal pasien keganasan di negara plussixtytwo, dokter selalu menjadi opsi terakhir.

Sama seperti pasien ini, dia ga langsung pergi ke Rumah Sakit. Dicobanya pengobatan alternatif. Saat ini nyerinya sudah sampai tenggorokan dan belum ada tanda membaik.

Mulai dicobanya urus BPJS, dan siap pergi ke rumah sakit dengan segala harapan kesembuhan penyakitnya yang makin parah selama penundaan dan pengobatan yang salah.


2. Malignant Round Cell Tumor cendereung Malignant Lymphoma Non Hodgkin akibat Gigi Palsu

Laki-laki, 78 tahun, awalnya datang ke dokter gigi berniat cabut gigi yang goyang. Terdapat pembengkakan di langit-langit sisi kanan yang tadinya tempat terpasangnya gigi palsu yang dipermanenkan dan tidak bisa dilepas selama 5 tahun terakhir. Buatan tukang gigi keliling.


Sesuai Permenkes No 39 tahun 2014, tukang gigi sepatutnya tidak membuat gigi tiruan yang dipermanenkan atau tidak bisa dilepas sendiri oleh pasien. Di Permenkes ini juga disebutkan bahwa tukang gigi seharusnya tidak berpraktik dengan cara berpindah-pindah atau kelilingan.

Dari hasil pemeriksaan lab, pasien didiagnosis Malignant Round Cell Tumor cendereung Malignant Lymphoma Non Hodgkin akibat Gigi Palsu. Pemotongan rahang untuk pasien ini harus segera dilakukan untuk menghambat penyebaran kanker lebih jauh lagi dengan. Pun, peluang kambuh lagi masih sebesar 80 persen.

Pasien minta waktu untuk berdiskusi dengan keluarga. Sayang sekali, tak pernah kembali lagi. Mungkin sedang mencari pengobatan alternatif. Tipikal masyarakat negeri ini untuk menghindari tindakan operasi atau tindakan medis lainnya jika sudah terdiagnosis menderita kanker.



3. Meninggal Dengan Diagnosis Squamous Cell Carcinoma Akibat Gigi Palsu

Wanita, 57 tahun. Pemakaian gigi tiruan hampir 5 tahun dan tidak pernah dilepas. Keluhan muncul sekitar 2 bulan yang lalu. Datang ke poli gigi dengan keluhan bengkak dan selalu berdarah dari intra oral dan ekstra oral.

Dari keterangan dokter bedah, Hasil HPA: positif SCC/keganasan et causa iritasi kronis gigi palsu.


Kondisi pada saat pertama kali pasien datang.
Proses operasi pengangkatan kanker. Jaraknya 2 minggu dari kunjungan pertama.

Satu bulan setelah operasi, Ibu ini meninggal karena kankernya sudah terlanjur menyebar.

4. Squamous Cell Carcinoma di Lidah Akibat Gigi Palsu dan Komplikasi

Risiko tertinggi terjadinya SCC (Squamous Cell Carcinoma) dialami oleh para perokok dan alkoholik dan akan diperparah oleh kebersihan mulut yang buruk. Kasus pasien yang dikirim oleh sejawat drg drg. Ganendra, Sp.BM ini memakai gigi tiruan rahang atas buatan tukang dengan menutup sisa akar.

Pasien ini perokok berat.

Jadi keberadaan gigi tiruan yang ga sesuai standar ini meningkatkan risiko terjadinya kanker. Belum lagi pembersihan sehari-hari yang terabaikan. Ya jelas terabaikan, mana ada tukang yang menjelaskan bagaimana pemeliharaan gigi tiruan sehari-harinya secara detail?

Peradangan rongga mulut semakin meningkat.

Manifestasi kankernya berupa sariawan yang besar di lidah, empat bulan tidak sembuh. Penyebarannya sampai ke kelenjar getah bening, ditandai dengan pembengkakan di sekitar dagu kanan.
Pasien datang dengan kondisi memakai gigi palsu tukang gigi yang dipasang menutupi sisa akar gigi. Terdapat semacam sariawan yang sangat lebar di lidah. Dan pembengkakan dagu bawah sebelah kanan menunjukkan penyebaran infeksinya sudah sampai ke kelenjar getah bening.
5. Meninggal Dengan Squamous Cell Carcinoma di Dasar Mulut Akibat Gigi Palsu

Pasien 56 tahun, katanya sudah memakai gigi tiruan made in tukang sejak 3 tahun yang lalu. Karena permanen, belum pernah dilepas sampai sekarang. Pasien dirujuk ke spesilis Onkologi dan didapatkan diagnosis Squamous Cell Carcinoma.
Gusi bagian dalam rahang bawah sakit, sering berdarah. Pelepasan gigi tiruan sangat sulit. Setelah terbuka terlihat gusi terjadi peradangan dan terdapat bercak putih.
Satu bulan setelah pasien dirawat, akhirnya pasien ini dikabarkan telah meninggal karena penyebaran kankernya.

6. Meninggal Setelah Melawan Kanker Akibat Gigi Palsu

Banjarmasin, Ibu latifah berusia 44 tahun mengalami pembengkakan pada pipi hingga wajahnya sebelah kanan. Pertama kali kasus Ibu Latifah diangkat oleh para aktivis di BEM STIE Pancasetia Banjarmasin yang bermaksud untuk menggalang dana untuk pengobatan beliau.

Menurut penjelasan salah seorang mahasiswa:

Awalnya semakin hari semakin merasakan sakit pd daerah gusi hingga terbentuk lubang berisi air yg kemudian pecah. Beliau sdah pernah berobat ke RS daerah Ulin tapi tidak memiliki biaya untuk meneruskan pengobtan. Jumlah biaya yg harus dikeluarkan 75 -100 juta rupiah. Kondisi ini sudah berlangsung 6 bulan lamanya. Penyakit beliau begitu cepat perkembangannya, pada bulan ke 5 kami sempat melakukan survei luka yang berongga itu. Ukurannya cukup besar dan semakin hari semakin parah. Hingga memasuki bulan ke 6 kami datang kembali utk mengurus BPJS, ternyata luka itu semkin parah dan meluas. Ibu Latifah hanya tinggal bersama suami, beliau tidak mempunyai anak. Beliau dan suami menggantungkan hidupnya pada 12 ekor bebek yang dimanfaatkan telurnya sebagai mata pencarian sehari-hari. Itu pun jika bertelur.

Kondisi Ibu Latifah
Untuk biaya pengobatan sudah ada bantuan dari BPJS namun keluarga Ibu latifah sangat membutuhkan bantuan untuk keperluan sehari-hari selama pengobatan berlangsung karena mereka hanya hidup berdua. Beliau yg tadinya di rawat d RS Ratu Zalecha sudh d rujuk ke RS Ulin. jika beliau dirujuk ke surabaya, yang ditanggung hanya biaya pengobatan. Untuk biaya transport dan keperluan beliau dan keluarga belum ada.

Mahasiswa STIE Pancasetia Banjarmasin mengantarkan Ibu Latifah ke RS Ulin Banjarmasin. Benar kata dr. Sasongko Spesialis Onkologi, bahwa kankernya akibat dari pemasangan gigi palsu yang tidak sesuai aturan.
Kondisi Ibu Latifah sepanjang perawatan menunjukkan perkembangan yang baik.
Keterangan kronologis:

31 Juli 2016: pertamakali terdokumentasikan.

2 September 2016: dokumentasi kedua.

20 September 2016: diantarkan ke RS Ulin Banjarmasin.

21 September 2016: pemeriksaan CT Scan

27 September 2016: Kemo tahap pertama

8 November 2016: transfusi darah untuk persiapan kemo tahap berikutnya. Tampak rambut sudah mulai rontok.

8 Januari 2017: Dokumentasi perkembangan perawatan.

9 Januari 2017: persiapan kemo ke-5
Melalui perwakilan BEM Pancasetia, Kortugi memberikan donasi kepada Ibu Latifah. Saat itu Ibu Latifah sudah menjalani 6 kali kemoterapi.

Tapi di tengah proses pengobatan, Ibu Latifah menyerah. Tidak kuat lagi merasakan efek samping dari pengobatan tersebut dan memutuskan menghentikannya. Selama proses penghentian pengobatan,  kondisinya semakin memprihatinkan. Hingga pada tanggal 28 januari 2018, beliau meninggal.

Dari dokumentasi kasus-kasus di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa SATU OKNUM yang berbuat kerusakan akibat perbuatannya yang tidak dilandasi keilmuan membuat satu tim profesional harus mencurahkan pikiran mereka untuk menyelamatkan satu nyawa. Yang mana satu oknum itu bisa jadi sekarang sedang kenyang menikmati uang hasil pekerjaan randomnya dan sedang mengerjakan satu lagi dan lagi, sebuah tindakan dengan kesalahan yang sama di orang lain. Tak pernah dilaporkan atau dituntut.

Baru tau kan bahwa PR atau tugas terberat itu BUKAN dari guru atau dosenmu yang jauh lebih pintar dibanding kamu sebagai muridnya. Di kehidupan sehari-hari, tugas terberat justru berasal dari orang yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali.

Maka berilmulah agar kamu tidak bikin susah hidupmu dan hidup orang lain.





1 comment:

Powered by Blogger.

Follow Aja Dulu

Other Platform

Popular Posts