Highlight

Petaka Filler Payudara Seharga 13,5 Juta Salon Zaskia Studio & Beauty

Zaskia Studio & Beauty Bar melakukan perawatan gigi hingga ke filler payudara Salon yang makin serba bisa itu perlu dipertanyakan. Janga...

Tuesday, March 24, 2020



Hingga artikel ini ditulis, kemenkes telah melaporkan jumlah positif COVID-19 yang ada di Indonesia adalah sebanyak 579 orang, yang meninggal 49 orang dan yang sembuh sebanyak 30 orang. Kita tidak berharap jumlah penderitanya akan bertambah di kemudian hari.

Data kemenkes per 23 Maret 2020


Di Indonesia, status COVID-19 ditetapkan sebagai bencana nasional. Di tengah-tengah masyarakat sendiri, kewaspadaan dan kesadaran untuk menanggulangi penyebarannya semakin meningkat, meski ada sebagian yang panik dan sebagian yang lain menyikapi dengan kewaspadaan yang wajar saja.

Segala informasi mengemas corona virus sebagai pembahasan seksi yang akan selalu trending topic untuk beberapa pekan terakhir dan beberapa pekan mendatang. Segalanya dibahas dari segala sudut pandang keilmuan dan pastinya di tengah masyarakat plus-sixty-two,  tidak akan pernah terlepas dari kajian-kajian politis, agamis dan konspiratif.

Dan tentu saja, tim kortugi juga memiliki gagasannya sendiri. Namun gagasan ini bukan untuk menambah kekhawatiran di kondisi yang sedang tidak kondusif saat ini, tapi bukankah jika kewaspadaan itu baru muncul sekarang, bukti bahwa urgensi soal kortugi di tengah masyarakat ini memang tidak pernah menjadi prioritas si pemangku kebijakan.

Kita semua paham, bahwa masalah praktisi gigi ilegal ini tak akan pernah surut jika hanya sekadar menggaungkan isu di sosial media tanpa ada pergerakan yang dipimpin oleh rumusan kebijakan. Urgensi di ranah ini sudah biasa terlambat, jadi silakan saja jika ingin ditanggapi secara biasa saja seperti di tahun-tahun sebelum COVID-19 merebak.

Gagasan kami adalah sebuah skenario yang cukup menakutkan ketika harus dikaji dalam kapasitas profesional medis. Yaitu soal bagaimana jika COVID-19 itu tersebar lewat jalur tukang salon gigi yang pekerjaannya nirsteril dan tak mengenal SOP tentang itu ataupun tentang standar perlindungan diri dari infeksi silang.

Gagasan ini sangat berdasar, karena The New York Times merilis sebuah artikel berjudul  "The Workers Who Face the Greatest Coronavirus Risk" yang menyebutkan bahwa Dokter Gigi memiliki risiko sangat tinggi dibanding profesi lainnya dalam hal paparan terhadap penularan COVID-19. Grafik tersebut menunjukkan bahwa Dokter Gigi dalam menjalankan kegiatan profesionalnya, memiliki kedekatan fisik dengan orang lain, dalam hal ini pasien, dan sekaligus memiliki tingkat paparan terhadap penyakit yang begitu tinggi.

Dokter gigi memeiliki risiko tinggi seiring dengan tingginya kedekatan fisik dengan pasien dan besarnya paparan terhadap penyakit selama melaksanakan tugas profesionalnya. Sumber: The New York Times


Maka dari itulah Dokter Gigi bersama seluruh anggota organisasi Persatuan Dokter Gigi Indonesia sepakat membuat satu stadar nasional guna menjamin keamanan baik Dokter Gigi dan pasien. Standar ini berupa Pedoman Pelayanan Kedokteran Gigi Selama Pandemi Virus COVID-19 yang dikeluarkan oleh PB PDGI.

Dokter Gigi sudah punya panduan prosedur yang harus dilaksanakan dengan sangat ketat. Lantas, apa kabar dengan para praktisi gigi ilegal yang aktivitas pekerjaannya menjadikan dirinya punya risiko yang sama dengan dokter gigi? dan sayangnya, mereka tidak punya ilmu sedikitpun soal stadar penanggulangan penyebaran infeksi.

Disamping prosedur tindakannya yang tidak standar dan terbukti membahayakan kesehatan pelanggan, sterilitasasi para praktisi gigi ilegal juga sangat diragukan, terlebih yang dikerjakan adalah area mulut dan wajah. COVID-19 menyebar serupa sebagaimana virus flu. Bahkan lebih agresif dan memiliki efek yang lebih parah. Menurut WHO, ketika seseorang yang menderita COVID-19 batuk atau bersin, mereka melepaskan percikan yang mengandung virus corona. Percikan ini yang akan menempel pada benda-benda di sekitarnya. Orang bisa terpapar atau terinfeksi COVID-19 dengan menyentuh permukaan atau benda yang terkontaminasi - dan kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut. Jika Anda berdiri pada jarak yang begitu dekat dari seseorang dengan COVID-19, Anda dapat terjangkit melalui batuk, bersin atau cipratan dari ludahnya.

Kedekatan operator dengan pelanggan seperti ini akan mempermudah penyebaran infeksi cipratan ludah satu sama lain. Peletakan instrumen sedemikian rupa membuat kontaminasi silang antara alat dengan orang atau media yang berkontak dengan alat tersebut.


Tukang salon gigi tidak begitu aware dengan risiko ini. Disamping tidak pernah mengenyam pendidikan yang mengajarkan SOP standar perlindungan diri, dia juga tidak tahu menahu tentang betapa complicated-nya masalah ini. Bayangkan saja, rantai penyebarannya akan melibatkan orang-orang yang random dengan perilaku yang random juga. Jelas para pelanggannya tidak tercatat secara administratif baik dari kunjungannya maupun tindakannya.

Pertama, akan ada risiko infeksi antara pelanggan dengan operator atau sebaliknya. Atau bisa jadi dengan linkungan kerjanya. Tempat penanganan pelanggan sama sekali tidak memiliki standar sterilisasi sebagai tempat tindakan medis karena dilakukan di mana saja sesuai kesepakatan. Bisa di rumah, bisa di hotel, kos-kosan atau dimanapun minimal cukup ruang untuk berbaring. Sterilitas alat juga tidak bisa dipastikan. Kebanyakan untuk jasa tukang salon gigi keliling akan membawanya dalam sebuah kotak portabel yang bercampur dengan barang-barang lain.

Dimana saja, asal ada tempat untuk berbaring.


Alat-alat medis berserakan dicampur dengan peralatan lain. Sterilisasi sudah pasti diabaikan.


Tukang behel sedang memasang behel di tempat yang tidak proper 

Tukang gigi keliling akan mengerjakan pelanggannya dimanapun mereka membuat janjian. Faktor keamanan dan sterilitas ruangan tidak pernah dipikirkan.


Seseorang bisa saja membawa virus tanpa harus ada tanda-tanda sakit. Para pembawa virus ini bahkan bisa dengan mudah menularkan virusnya ke orang lain bahkan di saat dia tidak ada gejala sakit. Inilah yang menyebabkan jumlah sebenarnya dari yang positif COVID-19 ini jauh lebih banyak daripada jumlah data yang hanya mendeteksi seseorang dari gejala penyakitnya saja. Tentu saja tanpa adanya gejala, orang tidak memiliki kecurigaan bahwa dia sedang dalam kondisi positif. tidak memeriksakan dan tidak terdeteksi. Dengan kata lain, pelanggan tukang behel, katakanlah, kedatangan pelanggan yang masih sehat-sehat saja tapi sudah membawa COVID-19. Maka dengan minimnya kelengkapan APD (Alat Perlindungan Diri), infeksi sudah pasti akan terjadi. Tinggal tunggu waktu keduanya akan mendapatkan gejala serius dari penyakit yang dakibatkan oleh COVID-19 ini.

Masuk ke tindakan, kelengkapan operator akan selalu bisa disangsikan. Dari masker yang melorot yang hanya menutupi mulut dan dengan hidung yang terbuka, bahkan yang diberi masker justru mata si pelanggan hingga lupa atau sengaja tidak pakai handschoen alias bertelanjang tangan.

Tukang behel mengerjakan pelanggan tanpa Alat Pelindung Diri seperti masker dan sarung tangan
Apa faedahnya masker yang melorot?
Si pelanggan ikutan dimasker


Alat-alat yang memasuki mulut, seberapa sempurna sterilisasinya? Alatnya sendiri alat pertukangan, atau alat yang sama sekali tidak proper dan tidak lazim dimasukkan ke mulut. Jika kita tidak sedang bebrbicara soal COVID-19, risiko terjadinya penularan penyakit tetap ada melalui perlukaan di gusi. Yang mana, akan menciptakan ending penyakit yang juga tidak pernah sepele. Hepatitis atau HIV, katakanlah.

Alat pertukangan yang masuk ke mulut
Alat-alat yang tidak lazim untuk dipakai di rongga mulut


Interaksi operator dengan pelanggan ini juga tidak selalu private. Kadang dalam satu ruangan, pelanggan berikutnya mengantri bergerombol di ruangan yang sama dengan si pelanggan yang sedang dikerjakan. Bahkan tidak hanya 1 operator, dua operator atau lebih mengerjakan bersama-sama bercampur jadi satu di situ.


Behel masal


Selesai penangan pelanggan, guna menambah sumber keuangan, si tukang salon ini akan mengadakan kursus. Murid kursus juga akan mengerjakan orang lain sebagai korban percobaannya. Bertambah pula jalur penularannya seiring dengan si murid yang akan menjadi operator dan guru kursus juga di kemudian hari, begitu seterusnya kebodohan itu diwariskan dan disebarluaskan turun temurun secara viral semudah persebaran virus penyakit itu sendiri.

Penyelenggaraan kursus ilegal dengan prosedur yang membahayakan baik untuk si model coba dan si operator dalam hal penularan infeksi.

Dengan mendapatkan sertifikat, peserta kursus akan merasa sudah kompeten dan siap menjadi pelaku usaha salon gigi atau bahkan menjadi pengajar kursus juga untuk para peserta didik bbaru berikutnya.


Maka tak heran, pelanggannya bisa ribuan. Sekali lagi dengan data administratif yang tidak bisa diharapkan jika kelak otoritas kesehatan harus melakukan tracing ketika ada kecurigaan COVID-19 yang bersumber dari lingkungan kerjanya.

Ranah estetika gigi ini sesuai dengan kecenderungan penyebaran tren lifestyle. Yang artinya, ada interaksi kelompok sosialita di dalamnya. Maka jika satu orang dari pelanggan salon gigi ini pulang dengan asesoris gigi impiannya, seketika itu akan ada interaksi show off di hadapan kelompoknya. Atau bahkan saling ajak dan saling merekomendasikan. Maka bisa dibilang, risiko persebaran COVID-19, sebanding kecepatannya dengan persebaran interaktif tren itu sendiri. Dari satu orang ke orang lain dan dari kelompok satu ke kelompok yang lain. Diantara kelompok sosialita, risiko ini akan lebih besar dengan kemudahan-kemudahan konsumtif terhadap produk layanan salon gigi yaitu aktifitas arisan behel atau veneer.

Arisan veneer


Terlebih di skenario situasi liburan dan work from home, masyarakat bisa jadi memanfaatkan momen ini untuk mempercantik diri, dengan pasang behel atau veneer misalnya. Di sisi lain, layanan dokter gigi yang hanya memfokuskan pada tindakan darurat saja tidak mungkin melayani pemasangan behel dan veneer. Kemana lagi si masyarakat ini memenuhi hasrat bergayanya kalau bukan ke tukang salon gigi?

Para pebisnis salon gigi ini tak jarang juga memakai endorsement artis. Maka risiko penularan ke artis beserta seluruh followersnya sangat memungkinkan. Apalagi tidak semua artis endorser itu memiliki wawasan soal isu kortugi ini.

Endorsement artis


Pesan untuk masyarakat, jika ada praktisi gigi ilegal, jangan dilarisi. Karena penyelenggaraan layanan yang ilegal selalu diikuti dengan pelanggaran SOP yang seharusnya bisa menjamin keamanan baik operator maupun pelanggannya. Dan bagaimana jika yang dilanggar adalah SOP standar sterilisasi?

Sekali lagi, gagasan ini seharusnya tidak membuat masyarakat semakin terbebani oleh kecemasan yang sebelumnya memang tidak terpikirkan. Karena seharusnya masalah praktisi gigi ilegal ini disikapi sejak dulu. Menundanya sama artinya membuat tugas semakin menumpuk di kemudian hari yang akan muncul sebagai fenomena-fenomena kerusakan yang semakin nyata di tengah masyarakat.

Baru tau kan bahwa PR atau tugas terberat itu BUKAN dari guru atau dosenmu yang jauh lebih pintar dibanding kamu sebagai muridnya. Di kehidupan sehari-hari, tugas terberat justru berasal dari orang yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Follow Aja Dulu

Other Platform

Popular Posts