Highlight

Petaka Filler Payudara Seharga 13,5 Juta Salon Zaskia Studio & Beauty

Zaskia Studio & Beauty Bar melakukan perawatan gigi hingga ke filler payudara Salon yang makin serba bisa itu perlu dipertanyakan. Janga...

Saturday, April 11, 2020

Gigi kelinci memang membuat senyum tambah manis. Jika ukuran dan bentuknya cocok dengan wajahnya. Gigi kelinci alami, biasanya sudah beradaptasi dengan bentuk wajah dan tulang rahang. maka keberadaannya bisa memberikan harmoni di wajah seseorang. Tapi bagaimanapun, harmonisasi ini juga dipandang secara subjektif oleh orang lain. Seperti halnya sebagian orang senang melihat seseorang bergigi kelinci, ataupun bisa jadi sebaliknya.

Sayangnya masyarakat tidak pernah mempertimbangkan harmonisasi keberadaan gigi kelinci ini di wajah mereka. Mereka hanya mengikuti tren para idol yang memang serbasempurna. Maka yang terjadi adalah proses imitasi oleh masyarakat dengan segala tingkatan kemampuan finansial mereka tanpa peduli pantas atau tidaknya keberadaan gigi kelinci itu di mulut mereka.

Goal mereka hanya satu: punya gigi kelinci.

Hasil pemaksaan diri pelanggannya dan ditambah dengan karya sok ide tukang salon ini rupanya menambah khazanah bentuk anatomi gigi di kalangan pansosus veneerian di negeri plus enampuluh dua ini.

Kita kupas satu per satu ya. Simak terus.

1. Gigi kelinci absolut. 

Apa kalau gigi dibikin seperti hewan pengerat kayak gini, bisa bikin jadi auto pengerat hubunganmu sama pasanganmu juga? Jika dilihat konfigurasinya, gigi kelinci ini bakal bikin jiwa jomblomu menggelinjang. Gigi aja bisa dibikin gandengan. Kamunya kapan?


2. Gigi kelinci no-straw-movement

Buat kamu yang aktif menyerukan kampanye gerakan tanpa sedotan plastik, gigi inilah yang cocok untuk meyakinkan orang bahwa kamu juga tidak mungkin menggunakan sedotan. bahkan yang ramah lingkungan sekalipun seperti sedotan guna ulang berbahan logam. Dijamin selalu berdenting macam lonceng angin hiasan teras rumah.


3. Gigi Kelinci Hidayah

Senyum itu ibadah. Tapi jika tertempel gigi kelinci nirfaedah, ditambah gingsul terkutuk, ibadahnya pindah ke orang yang dikasih senyum. Yaitu atas usahanya beristighfar sepanjang ingatan dan lantunan ayat kursi sepanjang malam karena takut didatangi mimpi buruk.


4. Gigi Kelinci Anti-French Kiss

Meski lidah tak bertulang, tapi jangan maksain untuk mencari celah buat silaturahmi dengan lidah si dia. Bisa-bisa papila lidahmu jadi tandas kegaruk giginya. The next level, kalau lidahmu sudah mampu U-Turn, nge-drift, dan lolos ujian SIM, bolehlah dicoba sekali lagi. Tapi ingat, lakukan pemanasan dulu. Karena jika sampai kesleo, susah sekali mencari counterpain kumur.


5. Gigi Kelinci High Definition

Seseuai namanya, gigi kelinci ini resolusinya kelewat gede, warnanya kelewat silau dan kadang ada efek 3D di bau mulutnya. Nonjok banget bahkan. Ini dikarenakan, ukuran atau ketebalan yang tidak sesuai kaidah medis, sudah pasti aspek kemudahan dalam membersihkan giginya diabaikan.

6. Gigi Kelinci Calon Penyanyi

Saking kotaknya, mungkin kalau dipakai untuk menyanyi suaranya auto mirip Tantri.


7. Gigi Kelinci Auto Pengen Banting

Abisnya, mirip kartu gaple, sih...


Itu tadi 7 macam gigi kelinci yang laku keras di negeri ini. Jika masih ada jenis lain, sebutin di kolom komentar ya.

Lantas, apa efek sampingnya jika kita mempercayakan gigi kelinci kepada tukang salon? Simak terus ya.
  1. Tukang salon gigi tidak memiliki perencanaan disain. Hasilnya baru bisa kamu lihat setelah semuanya selesai. Jadi, sesuka-suka tangannya si tukang dia mau membuat bentuk dan ukuran yang seperti apa. Artinya, jika jelek, nyeselnya bisa seumur hidup. Karena email gigi yang sudah terlanjur dianu-anuin hingga rusak, tidak bisa tumbuh kembali. Kamu tidak sepantasnya mempercayakan kosmetik yang efeknya permanen di tubuhmu kepada seorang tukang salon.
  2. Mereka tidak memiliki standar sterilisasi alat, tempat dan perlindungan diri sendiri beserta pelanggannya. Jadi, risiko infeksi silang rawan terjadi. Takutlah sama penularan HIV, Hepatitis ataupun virus SARS-Cov-2 yang keparahannya tidak main-main.
  3. Gigi kelinci yang asal tempel akan mengganggu oklusi. Apa itu oklusi? Yaitu harmonisasi antara rahang atas dan bawah ketika digunakan untuk mengunyah makanan. Coba bayangkan, kamu ketika makan, menggigit kerikil saja ga nyaman. makan nyelip dan terasa mengganjal saja tidak nyaman. Apa yang terjadi jika gigi kelinci yang terpasang permanen ini selalu terasa mengganjal ketika digunakan untuk mengunyah makanan? Beban kunyahnya jadi bertambah besar. Gigi akan mudah lepas.
  4. Harmonisasi gigitan yang terganggu akan menyebabkan pola arah dan gerak gigitan berubah. Perubahan ini menyebabkan otot dan sendi bekerja tidak seperti biasanya. Hasilnya, nyeri di otot pengunyahan hingga ke wajah atau bahkan bisa menyebabkan sakit kepala. Perubahan arah dan gerak gigitan ini contoh gampangnya adalah ketika gigi kelincimu terlalu panjang, maka caramu membuka mulut harus lebih lebar dari sebelumnya. Gigi yang panjang ini juga menyebabkan kesulitan pengunyahan dan akan membuat kebiasaan baru dengan mengunyah di sisi-sisi tertentu. Kerja ekstra ini jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama menyebabkan ketegangan otot hingga ke peradangan.
Jadi gimana? masih pengen jadi kaum Pansosus Veneerian? Biasanya sih, makin tipis bajet, makin tebel veneer gigi kelincinya. Lagipula, mau pansos kemana? Kelas di atasmu pada ngebully. Kelas asalmu jadi malu main sama kamu.

Kamu akan tetap berada di kelasmu sendiri. An uncategorized class for yourself.

Saturday, April 4, 2020




Covid-19 di Indonesia sudah masuk kategori bencana nasional. Sedangkan WHO secara global menyatakan bahwa penyakit ini sudah masuk sebagai pandemik. 

Pemerintah mencanangkan gerakan-gerakan pengendalian penyebaran COVID-19 dengan jalan physical distancing, stay at home dan gerakan mencuci tangan dengan sabun untuk masyarakat. Bahkan beberapa wilayah telah melakukan karantina mandiri untuk mencegah masuknya Wabah Covid19 di wilayah mereka. 

Profesional medis kuwalahan, selain karena penyebaran virus ini sangat cepat, Alat Perlindungan diri tidak mencukupi. Dan situasinya tidak bisa dianggap remeh ketika satu per satu tim medis meninggal akibat virus ini. Dan pagi ini pun (29 Maret 2020), satu lagi kabar duka dari salah seorang sejawat dokter gigi drg. Amutavia Sp. Ort setelah dinyatakan positif COVID-19 sejak tanggal 18 Maret.

Mindok mewakili seluruh tim sejawat dokter gigi di Kortugi mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya seorang ibu yang luar biasa sekaligus seorang dokter gigi yang akan selalu terkenang baktinya untuk bangsa dan negara. 

Semoga segala amalannya diterima oleh Allah SWT dan ditempatkan di sisi terbaikNya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan kesabaran. 

Amin. 

Dengan situasi ini, hanya orang bego yang menganggap kedaruratan ini ga serius. Dan tanpa analisis macem-macem, perilaku kebegoannya sudah pasti berdampak pada makin runyamnya situasi pandemic ini. Kita sebut saja kaum yang sangat tidak pandai ini sebagai sebutan COVIDIOT yang terdiri dari orang-orang yang tidak melaksanakan aturan-aturan yang telah ditetapkan terkait keamanan dan keselamatan masyarakat terhadap pandemic COVID-19. Terutama para tukang salon yang orientasinya hanya duit. Berikut adalah kelakuan tukang salon gigi covidiot tersebut yang diketahui dikerjakan pada pekan-pekan terakhir di tengah pandemic covid19 ini: 

1. Tetap buka 

Di saat klinik memberlakukan batasan tegas untuk hanya melayani kasus darurat saja, praktisi pencari uang illegal ini seolh ingin disamakan sebagai pekerja harian yang ga peduli dengan aturan physical distancing. Padahal pekerjaan yang jelas tidak memiliki legalitas ini, selama dikerjakan dengan mengimitasi pekerjaan dokter gigi, risikonya jauh lebih besar ketimbang dokter gigi yang beneran. Beberapa klinik menutup layanannya hingga waktu yang tidak bisa dipastikan. Sebaliknya, penghancur gigi masyarakat ini malah dengan memastikan layanannya tetap buka.

Tetap buka selam bulan Maret

Masa-masa kewaspadaan terhadap pandemi tapi masih tetap buka


2. Jasa homecare 

Disaat para dokter menutup kliniknya untuk memperkecil risiko penyebaran infeksi, tukang salon gigi tetap membuka layanan homecare. Dokter gigi sendiri tetap mentaati untuk tidak melakukan tindakan kedokteran gigi yang tidak darurat apalagi yang hanya perawatan estetika seperti behel dan veneer. Sebaliknya, tukang veneer ini membuka layanan yang sama sekali ga darurat, ga legal dan membuat orang keluar rumah. Double combo covidiot starter pack ada di dia semua.

Masih membuka jasa home care

Kondisi home care nya sendiri sangat tidak layak dan berisiko menyebarkan infeksi silang.

Meski memakai istilah home care yang terkesan sesuai dengan anjuran pemerintah untuk work from home, layanan di rumah ini tetap saja mewajibkan baik operator atau pelanggannya keluar rumah untuk menujuu ke tempat yang disepakati bersama. 

3. Jasa layanan luar kota 

Situasi di masyarakat semakin protektif, beberapa telah melakukan karantina wilayah dengan menolak pendatang luar kota masuk ke wilayahnya. Jadi, tolong, waspadai tukang veneer keliling ini karena dia menyediakan jasa luar kota.

Bahkan operatornya sendiri rela mendatangi pelanggannya.


4. Promo 

Sudah pasti untuk meningkatkan jumlah kunjungan pelanggannya, si covidiot oportunistik menggunakan iming-iming promo. Tiga hari lagi harga naik! Tau aja kalua netijen plussixtytwo lebih takut harga naik ketimbang covid-19. Silakan kalau mau panic buying veneer promo.

Malah membuka promo di masa pandemik

Home servis dan promo menawarkan kemudahan yang sangat berisiko untuk semua pihak.

5. Tidak adanya prosedur perlindungan infeksi 

Ilmu soal itu saja mereka tidak memiliki. Ketidaktahuan ini yang akan merugikan orang lain bukan hanya dalam urusan kesehatan gigi dan mulut, tapi yang paling utama adalah untuk kondisi sekarang ini dimana virus yang sudah ditetapkan secara pandemic itu sangat mudah sekali menular. 

Ketidakmampuan mereka dalam menyelenggarakan interaksi yang aman baik untuk operator dan pelanggannya bisa dilihat dari tempat dia praktik, alat yang digunakan, sterilisasi alat dan operator dan metode yang digunakan. 

Sudah terbukti bahwa bur gigi dan alat pembersih karang gigi mampu menyebarkan percikan dari mulut pelanggan yang berpotensi membawa virus kemudian menyebar di seluruh ruangan dan menempel pada pakaian atau benda-benda di sekitarnya. 

Tidak memakai Alat Pelindung Diri yang akan membahayakan baik operator maupun pelanggannya.
Meski operatornya memakai seragam perawat, bukan berarti auto kompeten atau legal dalam melakukan perawatan gigi. Prosedur sterilisasi dan perlindungan dirinya saja diabaikan.


Pada akhirnya, kita selalu bisa berkata: We are dealing with 2 pandemic: Covid-19 and Stupidity. Keduanya ga punya obat. Untuk covid-19 sih optimis bakal ada obatnya, tapi untuk stupidity, sepertinya ditunggu mati aja.

Powered by Blogger.

Follow Aja Dulu

Other Platform

Popular Posts