Highlight

Petaka Filler Payudara Seharga 13,5 Juta Salon Zaskia Studio & Beauty

Zaskia Studio & Beauty Bar melakukan perawatan gigi hingga ke filler payudara Salon yang makin serba bisa itu perlu dipertanyakan. Janga...

Saturday, April 4, 2020




Covid-19 di Indonesia sudah masuk kategori bencana nasional. Sedangkan WHO secara global menyatakan bahwa penyakit ini sudah masuk sebagai pandemik. 

Pemerintah mencanangkan gerakan-gerakan pengendalian penyebaran COVID-19 dengan jalan physical distancing, stay at home dan gerakan mencuci tangan dengan sabun untuk masyarakat. Bahkan beberapa wilayah telah melakukan karantina mandiri untuk mencegah masuknya Wabah Covid19 di wilayah mereka. 

Profesional medis kuwalahan, selain karena penyebaran virus ini sangat cepat, Alat Perlindungan diri tidak mencukupi. Dan situasinya tidak bisa dianggap remeh ketika satu per satu tim medis meninggal akibat virus ini. Dan pagi ini pun (29 Maret 2020), satu lagi kabar duka dari salah seorang sejawat dokter gigi drg. Amutavia Sp. Ort setelah dinyatakan positif COVID-19 sejak tanggal 18 Maret.

Mindok mewakili seluruh tim sejawat dokter gigi di Kortugi mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya seorang ibu yang luar biasa sekaligus seorang dokter gigi yang akan selalu terkenang baktinya untuk bangsa dan negara. 

Semoga segala amalannya diterima oleh Allah SWT dan ditempatkan di sisi terbaikNya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan kesabaran. 

Amin. 

Dengan situasi ini, hanya orang bego yang menganggap kedaruratan ini ga serius. Dan tanpa analisis macem-macem, perilaku kebegoannya sudah pasti berdampak pada makin runyamnya situasi pandemic ini. Kita sebut saja kaum yang sangat tidak pandai ini sebagai sebutan COVIDIOT yang terdiri dari orang-orang yang tidak melaksanakan aturan-aturan yang telah ditetapkan terkait keamanan dan keselamatan masyarakat terhadap pandemic COVID-19. Terutama para tukang salon yang orientasinya hanya duit. Berikut adalah kelakuan tukang salon gigi covidiot tersebut yang diketahui dikerjakan pada pekan-pekan terakhir di tengah pandemic covid19 ini: 

1. Tetap buka 

Di saat klinik memberlakukan batasan tegas untuk hanya melayani kasus darurat saja, praktisi pencari uang illegal ini seolh ingin disamakan sebagai pekerja harian yang ga peduli dengan aturan physical distancing. Padahal pekerjaan yang jelas tidak memiliki legalitas ini, selama dikerjakan dengan mengimitasi pekerjaan dokter gigi, risikonya jauh lebih besar ketimbang dokter gigi yang beneran. Beberapa klinik menutup layanannya hingga waktu yang tidak bisa dipastikan. Sebaliknya, penghancur gigi masyarakat ini malah dengan memastikan layanannya tetap buka.

Tetap buka selam bulan Maret

Masa-masa kewaspadaan terhadap pandemi tapi masih tetap buka


2. Jasa homecare 

Disaat para dokter menutup kliniknya untuk memperkecil risiko penyebaran infeksi, tukang salon gigi tetap membuka layanan homecare. Dokter gigi sendiri tetap mentaati untuk tidak melakukan tindakan kedokteran gigi yang tidak darurat apalagi yang hanya perawatan estetika seperti behel dan veneer. Sebaliknya, tukang veneer ini membuka layanan yang sama sekali ga darurat, ga legal dan membuat orang keluar rumah. Double combo covidiot starter pack ada di dia semua.

Masih membuka jasa home care

Kondisi home care nya sendiri sangat tidak layak dan berisiko menyebarkan infeksi silang.

Meski memakai istilah home care yang terkesan sesuai dengan anjuran pemerintah untuk work from home, layanan di rumah ini tetap saja mewajibkan baik operator atau pelanggannya keluar rumah untuk menujuu ke tempat yang disepakati bersama. 

3. Jasa layanan luar kota 

Situasi di masyarakat semakin protektif, beberapa telah melakukan karantina wilayah dengan menolak pendatang luar kota masuk ke wilayahnya. Jadi, tolong, waspadai tukang veneer keliling ini karena dia menyediakan jasa luar kota.

Bahkan operatornya sendiri rela mendatangi pelanggannya.


4. Promo 

Sudah pasti untuk meningkatkan jumlah kunjungan pelanggannya, si covidiot oportunistik menggunakan iming-iming promo. Tiga hari lagi harga naik! Tau aja kalua netijen plussixtytwo lebih takut harga naik ketimbang covid-19. Silakan kalau mau panic buying veneer promo.

Malah membuka promo di masa pandemik

Home servis dan promo menawarkan kemudahan yang sangat berisiko untuk semua pihak.

5. Tidak adanya prosedur perlindungan infeksi 

Ilmu soal itu saja mereka tidak memiliki. Ketidaktahuan ini yang akan merugikan orang lain bukan hanya dalam urusan kesehatan gigi dan mulut, tapi yang paling utama adalah untuk kondisi sekarang ini dimana virus yang sudah ditetapkan secara pandemic itu sangat mudah sekali menular. 

Ketidakmampuan mereka dalam menyelenggarakan interaksi yang aman baik untuk operator dan pelanggannya bisa dilihat dari tempat dia praktik, alat yang digunakan, sterilisasi alat dan operator dan metode yang digunakan. 

Sudah terbukti bahwa bur gigi dan alat pembersih karang gigi mampu menyebarkan percikan dari mulut pelanggan yang berpotensi membawa virus kemudian menyebar di seluruh ruangan dan menempel pada pakaian atau benda-benda di sekitarnya. 

Tidak memakai Alat Pelindung Diri yang akan membahayakan baik operator maupun pelanggannya.
Meski operatornya memakai seragam perawat, bukan berarti auto kompeten atau legal dalam melakukan perawatan gigi. Prosedur sterilisasi dan perlindungan dirinya saja diabaikan.


Pada akhirnya, kita selalu bisa berkata: We are dealing with 2 pandemic: Covid-19 and Stupidity. Keduanya ga punya obat. Untuk covid-19 sih optimis bakal ada obatnya, tapi untuk stupidity, sepertinya ditunggu mati aja.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Follow Aja Dulu

Other Platform

Popular Posts